Puncak Mudik Jogja–Solo 17 Ribu Kendaraan, Polisi Siaga di Tol dan Sleman
- Dok Polda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Menjelang puncak arus mudik Lebaran 1447 Hijriah, berbagai pihak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan langkah antisipatif untuk memastikan kelancaran lalu lintas sekaligus menjaga keamanan masyarakat. Fokus utama tertuju pada Gerbang Tol (GT) Purwomartani, ruas Tol Jogja-Solo, serta pengawasan di wilayah Sleman yang belakangan diwarnai isu keamanan.
Direktorat Lalu Lintas Polda DIY menempatkan pos pantau khusus di titik pertemuan ruas tol fungsional Segmen Prambanan–Purwomartani dengan jalur arteri. Langkah ini diambil untuk mencegah antrean kendaraan yang berpotensi mengular hingga ke jalan utama. Direktur Lalu Lintas Polda DIY, Kombes Pol Arie Prasetya Syafa’at, menegaskan bahwa pengawasan melekat dilakukan agar kepolisian dapat segera mengambil keputusan cepat dalam manajemen arus lalu lintas.
Jika antrean kendaraan di GT Purwomartani mencapai jarak 350 meter hingga menyentuh arteri, petugas akan segera mengalihkan arus ke jalur alternatif Prambanan. Diskresi ini dilakukan agar kepadatan tidak menimbulkan kemacetan total di ruas utama Jogja–Solo. Selain itu, Ditlantas juga menutup sebagian besar titik putar balik di sepanjang Jalan Solo. Dari 12 titik U-Turn, sembilan ditutup secara situasional untuk mengurangi hambatan samping, sementara tiga titik tetap dibuka di depan AU, Telkom, dan Sendangayu.
Prediksi Lonjakan Kendaraan di Tol Jogja–Solo
PT Jasamarga Jogja-Solo (JMJ) selaku pengelola tol memprediksi puncak arus mudik akan terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026, dengan volume kendaraan mencapai 17.000 unit. Direktur Utama JMJ, Rudy Hardiansyah, menyebutkan bahwa arus balik diperkirakan lebih padat, dengan jumlah kendaraan mencapai 24.000 unit pada 24 Maret 2026.
Data historis menunjukkan bahwa kepadatan biasanya meningkat pada sore hari menjelang berbuka puasa atau setelah sahur. Pola ini menjadi acuan bagi pengelola tol dan kepolisian dalam menentukan strategi pengaturan arus. Jalur fungsional Prambanan–Purwomartani sendiri akan dibuka secara situasional, bergantung pada diskresi kepolisian dan Dinas Perhubungan.
Koordinasi intensif dilakukan agar distribusi kendaraan merata dan tidak menumpuk di pintu keluar strategis menuju pusat Kota Yogyakarta maupun arah Solo. Dengan sistem fleksibel ini, diharapkan pemudik dapat menikmati perjalanan lebih lancar tanpa hambatan berarti.