Ekonomi DIY Tumbuh Positif, Inflasi Terkendali Menjelang Idul Fitri 1447 H
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan kinerja yang cukup positif menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 Hijriah. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di jalur positif serta tingkat inflasi yang relatif terkendali, meskipun tekanan harga sejumlah komoditas pangan mulai meningkat menjelang momentum hari raya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, dalam kegiatan Ngobrol Bareng dan Buka Puasa bersama media massa di Yogyakarta, Senin (16/03/2026) menyampaikan bahwa perekonomian DIY pada triwulan IV tahun 2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Secara tahunan, ekonomi DIY tercatat tumbuh sebesar 5,49 persen, sementara secara triwulanan mencapai 5,94 persen year-on-year.
Pertumbuhan tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Pulau Jawa yang berada pada angka 5,1 persen maupun rata-rata nasional yang mencapai 5,11 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di DIY masih memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah berbagai dinamika ekonomi nasional dan global.
Kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY berasal dari sejumlah sektor utama, antara lain sektor konstruksi, informasi dan komunikasi, akomodasi serta penyediaan makanan dan minuman, serta industri pengolahan. Sektor-sektor tersebut menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di daerah yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata tersebut. Secara nasional, kontribusi DIY terhadap perekonomian Indonesia tercatat sebesar 0,88 persen.
Di sisi lain, Darmadi mengungkapkan perkembangan inflasi juga menjadi perhatian penting menjelang Idul Fitri. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Maret 2026 inflasi bulanan di DIY tercatat sebesar 2,8 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 4,91 persen. Meskipun angka tersebut masih tergolong terkendali, pemerintah daerah dan otoritas terkait tetap melakukan berbagai langkah antisipatif guna mencegah lonjakan harga yang lebih tinggi.
Di Kota Yogyakarta, inflasi tercatat sebesar 5,19 persen secara tahunan, sementara wilayah lain di DIY berada di kisaran 4,7 persen. Komoditas pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi, terutama beras yang dalam dua tahun terakhir mengalami kenaikan rata-rata hingga 17,4 persen. Selain beras, komoditas lain yang turut memberikan tekanan terhadap inflasi antara lain cabai rawit yang naik sekitar 6,6 persen, telur ayam sebesar 5,3 persen, serta daging ayam yang meningkat sekitar 10 persen.