Kiprah Internasional Akademisi UGM dalam Laporan Global Penghilangan Karbon Dioksida
- DOK UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di panggung internasional melalui kiprah salah satu dosennya dalam isu perubahan iklim. Dosen dari Departemen Teknik Kimia UGM, Dr Hanifrahmawan Sudibyo, dipercaya oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai Lead Author atau penulis utama dalam penyusunan Laporan Metodologi Teknologi Penghilangan Karbon Dioksida. Laporan ini mencakup aspek penangkapan, pemanfaatan, serta penyimpanan karbon yang akan menjadi acuan bagi negara-negara dalam menyusun inventarisasi gas rumah kaca nasional.
Penunjukan ini bukanlah hal yang sederhana. IPCC, lembaga internasional yang menjadi rujukan utama dalam kebijakan iklim global, memiliki standar seleksi yang sangat ketat. Proses pemilihan Lead Author dilakukan oleh Task Force on National Greenhouse Gas Inventories (TFI) dengan mempertimbangkan keahlian ilmiah, rekam jejak penelitian, serta keseimbangan geografis dan gender. Dari ratusan kandidat yang diajukan, hanya segelintir yang terpilih, dan Dr. Hanifrahmawan menjadi salah satu dari dua akademisi Indonesia yang berhasil menembus seleksi tersebut.
Dalam wawancara, ia menegaskan bahwa amanah ini adalah tanggung jawab besar. Laporan metodologi IPCC bukan sekadar dokumen akademik, melainkan pedoman teknis yang akan digunakan oleh banyak negara untuk menyusun laporan inventarisasi gas rumah kaca. Oleh karena itu, konsistensi, kejelasan, dan kekuatan ilmiah dari metodologi yang disusun menjadi hal yang mutlak. “Metodologi ini harus bisa diimplementasikan secara nyata di berbagai negara dengan kondisi yang berbeda-beda,” ujarnya.
Topik yang dipercayakan kepadanya adalah “Soils-based Carbon Dioxide Removal (CDR)” yang berfokus pada sektor pertanian, kehutanan, dan pemanfaatan lahan. Pendekatan ini menekankan pentingnya pengelolaan tanah dan lahan sebagai salah satu cara paling strategis dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Praktik seperti konservasi tanah, reforestasi, agroforestri, dan pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi bagian dari solusi yang diharapkan mampu menekan laju emisi sekaligus meningkatkan serapan karbon. Menurutnya, setiap negara memiliki praktik pengelolaan lahan yang berbeda, sehingga metodologi yang disusun harus fleksibel namun tetap berbasis sains yang kuat.
Keterlibatan Dr. Hanifrahmawan dalam laporan ini juga menjadi bukti pengakuan internasional terhadap kapasitas akademisi Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa riset dan keilmuan yang dikembangkan di UGM mampu bersaing di tingkat global serta memberikan kontribusi nyata dalam perumusan kebijakan iklim dunia. Lebih jauh, capaian ini memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi sains, terutama dalam isu lingkungan dan keberlanjutan.