Ancaman Karhutla di Tengah Kemarau Panjang, Akademisi UGM Dorong Sinergi Modifikasi Cuaca dan Sekat Kanal
- DOK UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih cepat datang tahun ini menimbulkan kekhawatiran baru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa lebih dari separuh wilayah Indonesia akan menghadapi kemarau yang lebih panjang, sementara hampir separuh lainnya akan mengalaminya lebih awal. Sebagian wilayah bahkan diperkirakan mulai masuk musim kering pada April, meliputi Jawa bagian barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Kondisi ini memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang sudah mulai terlihat di Riau dengan luasan terbakar mencapai lebih dari 4.400 hektar.
Menghadapi ancaman tersebut, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Fiqri Ardiansyah, menekankan perlunya strategi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga berkelanjutan. Ia menilai bahwa anggaran penanganan karhutla harus mengedepankan konsep manajemen darurat yang menyeluruh, mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, hingga pemulihan. “Kebijakan harus adaptif, bukan sekadar menunggu saat darurat,” ujarnya.
Fiqri menyoroti pentingnya infrastruktur pembasahan gambut sebagai langkah strategis. Menurutnya, operasi modifikasi cuaca (OMC), pembangunan sumur bor, dan sekat kanal adalah instrumen yang bisa dijalankan secara sinergis untuk menjaga ekosistem tetap basah. Ia menekankan bahwa sekat kanal terbukti efektif dalam jangka panjang, karena mampu menahan air agar tidak keluar dari ekosistem gambut. “Gambut yang terbakar umumnya adalah gambut yang sudah terdegradasi. Sekat kanal membantu menjaga kelembaban sehingga risiko kebakaran berkurang,” jelasnya.
Selain aspek teknis, Fiqri menekankan perlunya kolaborasi permanen antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ia mengusulkan agar kerja sama tidak hanya bersifat instruksional saat darurat, tetapi diwujudkan dalam aktivitas rutin seperti apel, patroli, pemantauan bersama dengan BPBD dan Manggala Agni, serta pendampingan masyarakat peduli api (MPA). Dengan cara ini, pencegahan karhutla bisa menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar respons sesaat.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa akar persoalan karhutla sering kali berasal dari perilaku manusia di tingkat tapak. Penyadartahuan masyarakat mengenai bahaya penggunaan api yang tidak terkendali menjadi kunci. “Kebakaran umumnya terjadi karena ignition dari aktivitas manusia. Maka perubahan perilaku adalah langkah mendasar yang harus dilakukan,” tegasnya.