Daging Ayam dan Bahan Bakar Jadi Faktor Kenaikan Harga di Yogyakarta
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kota Yogyakarta kembali mencatat dinamika inflasi yang cukup signifikan pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta merilis data terbaru yang menunjukkan inflasi tahunan mencapai 4,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,14. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,33 persen, sementara akumulasi inflasi sejak Januari hingga Maret berada di angka 0,91 persen. Angka ini menegaskan bahwa tekanan harga masih terasa di tengah masyarakat, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran yang paling berpengaruh terhadap inflasi bulanan adalah makanan, minuman, dan tembakau, disusul oleh sektor penyediaan makanan dan minuman/restoran serta transportasi. Menurutnya, sejumlah komoditas menjadi pemicu utama, seperti bensin, daging ayam ras, emping mentah, beras, serta berbagai jenis sayuran. Kenaikan harga bahan pangan ini erat kaitannya dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Lebaran, sebuah pola musiman yang hampir selalu terjadi setiap tahun.
Salah satu komoditas yang paling mencolok adalah daging ayam ras. Harga yang biasanya berada di kisaran Rp34.000–Rp35.000 per kilogram melonjak hingga menyentuh Rp45.000 bahkan mendekati Rp50.000 di beberapa pasar. Lonjakan ini dipicu oleh tingginya permintaan, sementara pasokan tidak mengalami peningkatan yang sepadan. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa rentannya harga pangan terhadap fluktuasi musiman, terutama ketika kebutuhan masyarakat meningkat secara serentak.
Selain pangan, sektor energi juga memberikan kontribusi besar terhadap inflasi. Kenaikan harga bensin menjadi salah satu faktor eksternal yang sulit dikendalikan oleh pemerintah daerah. Joko menekankan bahwa inflasi di Yogyakarta dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Harga bahan bakar dan emas, misalnya, lebih banyak ditentukan oleh kebijakan nasional maupun kondisi global. Sebaliknya, komoditas pangan masih bisa diintervensi melalui kebijakan lokal seperti operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang justru menahan laju inflasi. Emas perhiasan tercatat memberikan andil negatif sekitar minus 0,66 persen. Selain itu, tarif angkutan udara, pisang, wortel, dan bawang putih juga ikut menekan inflasi agar tidak lebih tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak selalu searah, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling bertolak belakang.