Monumen Husein Sastranegara, Jejak Kepahlawanan di Langit Nusantara
- Dok Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Sebuah monumen untuk mengenang jasa Komodor Muda Udara (Anumerta) Husein Sastranegara resmi berdiri di Kompleks UPT Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo, Yogyakarta, pada Selasa (07/04/2026). Peresmian dilakukan oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, yang menegaskan bahwa monumen ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol penghormatan atas dedikasi seorang putra bangsa yang telah mengabdikan hidupnya demi kedaulatan udara Indonesia.
Dalam sambutan yang dibacakan Sri Paduka atas nama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, disebutkan bahwa Husein Sastranegara adalah salah satu pelopor penerbangan militer Indonesia. Dedikasi, keberanian, dan semangat juangnya di masa awal kemerdekaan menjadi teladan yang patut diwariskan kepada generasi penerus. Monumen ini diharapkan menjadi pengingat bahwa perjuangan dan pengorbanan para pahlawan tidak berhenti pada catatan sejarah, melainkan harus hidup dalam tindakan nyata membangun bangsa.
Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), Marsekal Muda TNI Donald Kasenda, turut memberikan penghormatan dengan menyebut Husein Sastranegara sebagai putra terbaik bangsa yang merintis TNI Angkatan Udara. Lahir di Cianjur pada 20 Januari 1919, ia gugur pada 26 September 1946 saat melaksanakan tugas penting. Sejarah mencatat bahwa pada hari itu, Husein ditugaskan melakukan uji terbang pesawat cukiu, peninggalan Jepang dari Perang Dunia II, yang direncanakan akan digunakan untuk mengangkut Perdana Menteri Sultan Sjahrir dari Yogyakarta ke Malang. Misi tersebut sangat strategis, mencerminkan kepercayaan besar negara kepadanya.
Namun takdir berkata lain. Pesawat yang dikemudikan mengalami kerusakan mesin dan jatuh di kawasan Gowongan Lor, Yogyakarta. Dalam peristiwa itu, Husein gugur bersama teknisi pesawat, Sersan Mayor Udara Rukidi. Tragedi tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah TNI Angkatan Udara, sekaligus menegaskan bahwa kedaulatan udara bangsa ini dibangun atas keberanian dan pengorbanan jiwa raga para pendahulu.
Marsda TNI Donald Kasenda menekankan bahwa pembangunan monumen ini bukan hanya penanda fisik, melainkan media pengingat kolektif akan nilai kepahlawanan. Monumen diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah, sumber inspirasi, dan ruang refleksi bagi masyarakat luas, khususnya prajurit angkatan udara. Dengan keberadaan monumen ini, semangat cinta tanah air, loyalitas, dan kesiapsiagaan diharapkan terus tumbuh dalam menghadapi tantangan pengabdian di masa depan.