Pemkot Yogya dan UII Wujudkan Hunian Layak di Kampung Lampion
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Universitas Islam Indonesia (UII) resmi merampungkan pembangunan tahap pertama rumah layak huni di Kampung Lampion Kotabaru, Gondokusuman. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai permukiman kumuh di bantaran Sungai Code itu kini berubah wajah menjadi hunian yang lebih sehat dan tertata. Program ini tidak hanya menandai keberhasilan pembangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi lintas lembaga dalam mewujudkan kesejahteraan warga.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan apresiasi kepada UII yang berhasil menggandeng mitra internasional dari India untuk mendukung pendanaan pembangunan. Ia menekankan bahwa proyek ini merupakan wujud nyata kerja sama pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, Kraton Yogyakarta, serta Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam menyelesaikan aspek legalitas tanah. “Rumah ini tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memiliki legal standing yang jelas. Semua pihak bergerak bersama sehingga pekerjaan yang rumit bisa diselesaikan lebih cepat,” ujar Hasto saat peresmian tahap pertama sekaligus peluncuran tahap kedua pembangunan.
Tahap pertama pembangunan menghasilkan sepuluh unit rumah layak huni. Enam unit didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Yogyakarta dengan alokasi sekitar Rp1 miliar, sementara empat unit lainnya merupakan kontribusi dari lembaga SPARC India dan Yayasan SPEAK Indonesia melalui UII senilai Rp580 juta. Rumah-rumah tersebut dibangun mundur dari tepi sungai dan dirancang dua lantai, sehingga lebih aman dari potensi banjir. Selain itu, Pemkot juga membangun dua unit rumah di RW 5 Terban dengan dana APBD senilai Rp457,7 juta.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, menjelaskan bahwa tahap kedua akan segera dimulai pada tahun 2026. Rencananya, delapan unit rumah akan dibangun di Kampung Lampion dengan anggaran sekitar Rp2 miliar, serta enam unit di Terban dengan alokasi Rp1,2 miliar. “Hari ini kita melakukan kick off agar pembangunan bisa segera berjalan sesuai kontrak dan target waktu,” jelasnya.
Wakil Rektor Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan UII, Wiryono Raharjo, menambahkan bahwa desain dan konstruksi rumah merupakan hasil kerja bersama. UII berperan menyalurkan dana dari Global Resilience Partnership di Swedia melalui SPARC India. Menurutnya, proyek ini bahkan telah dipublikasikan di tingkat internasional dan dijadikan contoh dalam diskusi global mengenai sinergi pemerintah dan masyarakat. “Kasus Jogja akan digunakan sebagai bahan negosiasi di Brazil, karena di sana warga kesulitan bersinergi dengan pemerintah. Ini menjadi pembelajaran global,” ungkap Wiryono.