Kreativitas Jadi Aset Utama Jogja di Panggung Festival Asia Tenggara
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Yogyakarta meneguhkan diri sebagai pusat kreativitas dan festival di Asia Tenggara lewat penyelenggaraan Jogja Festivals Forum and Expo (JFFE) 2026. Ajang yang berlangsung di Gedung PDIN, Gondokusuman, Rabu (15/04/2026), ini menjadi wadah strategis bagi pelaku festival, industri pariwisata, ekonomi kreatif, hingga investor untuk merumuskan arah pembangunan berbasis budaya dan kreativitas.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kota tidak semata bergantung pada pemerintah, melainkan digerakkan oleh pelaku usaha, investor, dan insan kreatif. Ia menyebut Yogyakarta sebagai kota “semi-autopilot” yang bertumbuh berkat energi masyarakatnya. “Kita tidak punya sumber daya alam besar. Yang kita miliki adalah kreativitas manusia. Kalau manusianya tidak kreatif, kita tidak punya apa-apa,” ujarnya.
Hasto mencontohkan peran tokoh kreatif seperti Heri Pemad yang turut menggerakkan ekosistem seni dan budaya. Menurutnya, penyelenggaraan JFFE menjadi ruang penting untuk mempertemukan para pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi berbasis gotong royong diyakini menjadi kunci membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menambahkan bahwa festival bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan instrumen kesejahteraan. “Sumber daya alam bukan lagi yang utama. Kreativitas adalah sumber daya baru yang tidak terbatas dan menjadi mesin pertumbuhan masa depan. Jogja punya lebih dari 50 festival tiap tahun, ini luar biasa secara nasional bahkan global,” ungkapnya.
Irene menekankan pentingnya konektivitas dan keberlanjutan dalam pengembangan ekonomi kreatif, termasuk keterlibatan koperasi dan komunitas lokal. Festival, menurutnya, memiliki kekuatan menyatukan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi. Dengan paradigma baru ini, Yogyakarta dinilai memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk bersaing di tingkat regional.
Ketua JFFE 2026 sekaligus Direktur Artistik ARTJOG, Heri Pemad, menegaskan bahwa festival kini telah berkembang menjadi bagian dari infrastruktur budaya dan ekonomi kota. Tidak lagi sekadar tradisi, festival menjadi penguat identitas, penggerak ekonomi kreatif, hingga medium diplomasi budaya. “Festival bisa berkelanjutan jika dikelola secara kolaboratif, profesional, dan terintegrasi dengan kebijakan serta industri pendukung,” jelasnya.
Melalui forum yang memasuki tahun ketujuh ini, berbagai pemangku kepentingan dirangkul untuk merumuskan masa depan festival sebagai bagian penting pembangunan kota dan kawasan. Agenda JFFE 2026 yang berlangsung hingga Kamis (16/04/2926) diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus melahirkan inovasi baru dalam pengelolaan festival. Dengan lebih dari 50 agenda tahunan, Yogyakarta semakin meneguhkan diri sebagai kota festival yang tak hanya menjadi magnet wisata, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi kreatif di Asia Tenggara.