Bank Sampah Sawo Kecik Dorong Sleman Kejar Target Bebas Sampah 2028

Bank Sampah Sawo Kecik di Kabupaten Sleman
Sumber :
  • IST

SLEMAN, VIVA Jogja — Gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Sleman mulai menunjukkan hasil nyata melalui penguatan bank sampah di tingkat kalurahan.

img_title Aktivitas Gunung Merapi Masih Tinggi, BPPTKG Catat Puluhan Guguran Lava dalam Tiga Hari Terakhir

Salah satu contoh yang mencuat adalah Bank Sampah Sawo Kecik di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, yang berkembang dari edukasi sederhana hingga mampu mengelola sampah secara berkelanjutan.

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Fitasari Ayu Wardani, menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan program ini terletak pada kesadaran masyarakat.

img_title Sleman Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan

“Yang pertama itu sosialisasi, tentang kenapa kita harus mengelola sampah dari rumah tangga. Kemudian kita fasilitasi pembentukan kelompok seperti KPSN, bank sampah, atau bentuk lainnya,” ujarnya.

Setelah pembentukan kelompok, pemerintah tidak berhenti pada tahap administratif, melainkan melanjutkan dengan pelatihan teknis sesuai kebutuhan masyarakat.

img_title PLUT UMKM Kulonprogo Jadi Rumah Besar Ekonomi Rakyat

Pelatihan tersebut mencakup pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, hingga pembuatan produk kerajinan yang bernilai ekonomi.

Pendampingan juga diperkuat dengan kehadiran 120 tenaga pendamping serta kegiatan studi banding ke lokasi pengelolaan sampah yang telah lebih maju.

Namun di balik perkembangan tersebut, tantangan tetap muncul, terutama terkait keberlanjutan relawan yang menjadi tulang punggung operasional bank sampah.

“Kalau hanya mengejar uang, biasanya tidak bertahan lama. Tapi kalau berbasis kesadaran, itu bisa bertahan,” tegas Fitasari.

Selain itu, fluktuasi harga barang bekas dan belum adanya bank sampah induk di Sleman menjadi kendala dalam meningkatkan nilai jual hasil pengelolaan sampah.

Fitasari juga menekankan bahwa pemilahan sampah dari rumah menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi sampah.

“Kalau sampah tercampur organik, jadi basah dan nilai kalorinya turun. Jadi pemilahan dari rumah itu kunci,” jelasnya.

Di sisi lain, Bank Sampah Sawo Kecik menunjukkan bagaimana gerakan kecil di tingkat RT dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan yang berdampak luas.

Direktur Bank Sampah Sawo Kecik, Herry Astuti Imaningsih, menyebut saat ini pihaknya mampu mengelola sekitar 1,7 ton sampah per bulan dari 35 jenis sampah berbeda.

“Kami buka seminggu sekali, setiap Sabtu, dengan sekitar 30 nasabah per minggu,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title