Seabad Newcastle Disease di Indonesia, UGM Dorong Vaksin Isolat Lokal

Vaksin penyakit tetelo pada ayam
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Penyakit Newcastle Disease (ND), yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan tetelo, masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi industri perunggasan nasional. Penyakit menular ini disebabkan oleh virus Avian orthoavulavirus-1 dan dapat menyerang berbagai sistem tubuh unggas, mulai dari pernapasan, pencernaan, hingga saraf. Tingkat kematian yang tinggi, penurunan produksi telur, gangguan pertumbuhan, serta meningkatnya biaya pengendalian membuat ND menjadi faktor penghambat produktivitas sekaligus keberlanjutan usaha peternakan unggas di tanah air.

img_title UGM Luncurkan Kurikulum Baru untuk Cetak Lulusan Adaptif dan Kompetitif

Catatan sejarah menunjukkan bahwa penyakit ini pertama kali ditemukan di Indonesia pada Maret 1926, tepat seabad lalu. Peneliti Belanda bernama Kraneveld mengidentifikasi kasus tersebut di Batavia, dengan konfirmasi laboratorium dilakukan di Bogor. Saat itu, penyakit ini bahkan sempat dijuluki Batavia Disease. Sejak saat itu, ND terus menjadi momok bagi peternak, dengan dampak yang meluas hingga ke sektor ekonomi dan ketahanan pangan.

Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P., pakar virologi veteriner dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), menegaskan bahwa ND merupakan penyakit kompleks yang sulit dikendalikan. Menurutnya, vaksinasi rutin selama ini menggunakan strain klasik seperti LaSota (genotipe II). Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa virus yang beredar telah berevolusi. “Saat ini, virus ND yang paling banyak ditemukan adalah genotipe VII, khususnya sub-genotipe VII-i, yang bersifat lebih ganas dan telah menyebar luas pada berbagai jenis unggas,” ujarnya.

img_title Perjuangan Anak Penjual Keripik, Tiara Julianti Raih Kuliah Gratis di Kedokteran UGM

Perbedaan antara virus dalam vaksin dengan virus yang beredar di lapangan menjadi tantangan besar. Karena itu, diperlukan pembaruan seed vaksin agar lebih sesuai dengan kondisi terbaru. Pendekatan vaksin yang disesuaikan dengan genotipe virus di lapangan (genotype-matched) diyakini mampu memberikan perlindungan lebih baik sekaligus menekan penyebaran penyakit. Haryadi bersama tim peneliti FKH UGM melakukan kajian menyeluruh, mulai dari pengambilan sampel di lapangan, analisis gen penting, hingga pemetaan genetik lengkap virus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus ND di Indonesia saat ini memang didominasi oleh virus genotipe VII-i yang bersifat virulen.

Halaman Selanjutnya
img_title