Keraton Yogyakarta Terapkan Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono dalam Pengelolaan Sampah Terpadu
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April 2026, Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan puluhan abdi dalem dari bidang pariwisata dan kebersihan. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Museum Wahanarata ini menjadi langkah nyata Keraton dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah di kawasan wisata yang setiap harinya dikunjungi ribuan wisatawan.
Dalam sambutannya, KRT Jatihadiningrat selaku Penghageng II Kawedanan Radya Kartiyasa menegaskan bahwa Keraton Yogyakarta selalu terbuka terhadap kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas. Menurutnya, pelatihan ini bukan hanya untuk kepentingan internal Keraton, tetapi juga untuk menjaga kenyamanan wisatawan dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh abdi dalem dapat diterapkan dalam keseharian sehingga kebersihan kawasan Keraton tetap terjaga.
Koordinator operasional bidang pariwisata Keraton Yogyakarta, Mas Jajar Praba Hanendra, menambahkan bahwa pengelolaan sampah di kawasan wisata Keraton memiliki tantangan tersendiri. Kawasan seperti Kedaton, Tamansari, dan Museum Wahanarata setiap harinya menerima ribuan pengunjung. Di Tamansari, jumlah wisatawan bisa mencapai 3.500 orang per hari, bahkan melonjak dua kali lipat saat akhir pekan. Kondisi ini membuat sampah organik dari pepohonan bercampur dengan sampah anorganik yang dibawa pengunjung, sehingga memerlukan sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi.
Sejumlah langkah telah dilakukan, seperti penyediaan tempat sampah terpilah di Museum Wahanarata. Namun, menurut Hanendra, langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi volume sampah yang terus meningkat. Oleh karena itu, Keraton menggandeng komunitas warga yang telah berhasil menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Ketua RW 05 Mangkuyudan, Ganang Iwan Surya Yudha, hadir untuk berbagi pengalaman tentang pengelolaan sampah di kampungnya. Warga Mangkuyudan mendirikan bank sampah untuk mengelola sampah anorganik dan membuat biopori jumbo untuk menampung sampah organik. Sampah organik diolah menjadi pupuk padat maupun cair yang dapat digunakan kembali untuk tanaman atau dijual sebagai produk bernilai ekonomi.
Selain itu, Keraton juga menghadirkan fasilitator dari Sirkoola, lembaga yang berpengalaman dalam pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Sholahuddin Nurazmy menekankan bahwa Keraton Yogyakarta memiliki kearifan lokal yang bisa dijadikan dasar pengelolaan sampah, yakni filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Filosofi ini, menurutnya, sudah ada jauh sebelum konsep ekologi modern diperkenalkan. Prinsip menjaga harmoni alam dan lingkungan yang terkandung dalam filosofi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam praktik nyata, seperti pemilahan sampah dan pengolahan organik menjadi kompos.