Sungai Winongo Ditata, Pemkot Yogyakarta Tegaskan Komitmen Pemulihan Ekosistem
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta terus mengupayakan keseimbangan ekosistem sungai secara keberlanjutan dengan melanjutkan program normalisasi di Sungai Winongo. Setelah sebelumnya fokus pada Sungai Code, kini perhatian diarahkan ke Winongo yang dinilai membutuhkan penanganan serius akibat sedimentasi dan aktivitas tidak sesuai di bantaran sungai.
Kegiatan normalisasi dipusatkan di Bendung Tanjung Patangpuluhan, Wirobrajan, dan dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Dalam kesempatan tersebut, Hasto menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar pengerjaan fisik, melainkan bagian dari upaya menyeluruh untuk mengembalikan fungsi sungai sebagai saluran air sekaligus habitat ekosistem kota. Ia menegaskan bahwa kondisi Sungai Winongo yang lama tidak tersentuh penataan telah menimbulkan berbagai masalah, mulai dari penyumbatan aliran air hingga potensi banjir.
Sebagai simbol pemulihan ekosistem, ribuan ikan dilepas ke Sungai Winongo. Pelepasan ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas habitat sungai sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis lingkungan. Hasto menyoroti adanya bangunan liar dan pemanfaatan bantaran sungai untuk kandang ternak maupun bank sampah yang jelas tidak sesuai peruntukan. Aktivitas semacam itu, menurutnya, berpotensi mengganggu aliran air dan meningkatkan risiko bencana.
Selain pengerukan sedimen dengan alat berat, Pemkot juga menyiapkan pemasangan trash barrier sebagai langkah lanjutan. Fasilitas ini akan berfungsi menjaring sampah yang terbawa arus agar tidak menumpuk di hilir. Dengan demikian, aliran sungai diharapkan tetap lancar dan kualitas lingkungan lebih terjaga.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Maryadi Utama, menjelaskan bahwa pengerukan dilakukan menggunakan dua ekskavator untuk membuka jalur air hingga ke hilir. Menurutnya, kelancaran arus sungai merupakan faktor penting dalam mencegah banjir. Dengan aliran yang tidak terhambat, potensi meluapnya air saat debit tinggi dapat ditekan.
Hasto menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi masyarakat. Ia telah menginstruksikan aparat wilayah untuk melakukan sosialisasi dan pemantauan rutin agar tidak muncul kembali bangunan liar maupun aktivitas yang merusak sungai. Kesadaran warga dalam menjaga kebersihan dan fungsi sungai menjadi kunci keberlanjutan program ini.