Edukasi Gizi dan Konsumsi Protein Jadi Strategi Pemkot Yogyakarta Tekan Stunting
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogya menekan angka stunting dengan menggencarkan Gerakan Mengonsumsi Protein (Gembrot). Program ini menyasar kelompok rentan, terutama ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia di bawah dua tahun, sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan prevalensi stunting di wilayah kota.
Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Ashardini Eka Setianingsih, menjelaskan bahwa program Gembrot telah berjalan rutin sejak 2020. Latar belakangnya adalah rendahnya konsumsi protein masyarakat yang tercermin dari skor Pola Pangan Harapan (PPH). “Kelompok pangan sumber protein di masyarakat kita masih kurang. Ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan upaya penurunan stunting,” ujarnya.
Ashardini menekankan bahwa penanganan stunting tidak hanya bergantung pada ketersediaan pangan, tetapi juga akses ekonomi dan pengetahuan gizi masyarakat. Kota Yogyakarta dinilai cukup memadai dari sisi ketersediaan dan akses fisik, namun masih ada tantangan dalam akses ekonomi serta pemahaman keluarga terhadap pola konsumsi sehat. Ia menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci penting agar masyarakat tidak hanya mampu membeli pangan bergizi, tetapi juga memahami cara mengolah dan menyajikannya dengan benar.
Dalam pelaksanaan program, Bimbingan Teknis (Bimtek) Gembrot digelar di 14 kemantren dengan melibatkan ratusan peserta. Mereka mendapatkan paket bahan pangan tinggi protein seperti ayam, lele berbumbu beku, serta telur omega. Tim Penggerak PKK Kota Yogyakarta turut dilibatkan untuk memberikan pelatihan praktik memasak agar menu berbahan protein lebih variatif dan menarik bagi anak-anak.
Salah satu pengurus Pokja 3 TP PKK Kota Yogyakarta, Tolok Triasih, menekankan pentingnya teknik memasak dalam pengolahan pangan keluarga. Menurutnya, meskipun sederhana, teknik yang benar akan membuat bahan pangan lebih efisien, tidak terbuang, dan menghasilkan olahan yang lebih menarik. “Apalagi untuk anak, protein sangat penting tetapi harus dikemas lebih menarik agar mereka mau mengonsumsinya,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat diharapkan mampu mengolah bahan pangan menjadi menu bergizi seimbang, beragam, dan aman (B2SA). Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mendapatkan asupan protein yang cukup, tetapi juga terbiasa dengan pola makan sehat sejak dini.