Yogyakarta Mantapkan Langkah Jadi Kota Rujukan Inovasi Nasional
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Setelah pada tahun 2025 berhasil meraih predikat Innovative Government Award (IGA) sebagai Kota Sangat Inovatif dengan melaporkan 66 inovasi daerah, kini target yang lebih tinggi dipasang: menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Terinovatif pada 2026. Ambisi ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan strategi untuk menempatkan Yogyakarta sebagai pusat rujukan inovasi nasional.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, dalam arahannya kepada puluhan inovator di lingkungan Pemkot menekankan bahwa inovasi harus berangkat dari masalah nyata di masyarakat. Menurutnya, ide tanpa solusi konkret tidak bisa disebut inovasi. Ia menegaskan bahwa setiap inovasi harus melalui proses yang matang, mulai dari input, proses, hingga outcome yang berdampak langsung. Dedi juga mengingatkan pentingnya budaya menulis di kalangan aparatur sipil negara. Dokumentasi yang baik menjadi kunci dalam pelaporan dan penilaian, sekaligus memastikan bahwa inovasi tidak hilang begitu saja tanpa jejak.
Lebih jauh, Dedi mendorong setiap organisasi perangkat daerah untuk menggali potensi inovasi dari berbagai sektor. Pelayanan publik, penanganan kemiskinan, hingga penataan kawasan perkotaan disebut sebagai ruang yang luas untuk melahirkan terobosan. Ia menekankan bahwa Yogyakarta harus mampu menjadi center of referral, tempat daerah lain belajar dan mereplikasi inovasi yang lahir dari kota ini. Dengan demikian, inovasi tidak hanya berhenti pada level lokal, tetapi memberi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menambahkan bahwa inovasi kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem terintegrasi. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat harus berkolaborasi untuk melahirkan inovasi yang berkelanjutan. Ia menyoroti capaian indeks inovasi daerah Yogyakarta pada 2025 yang mencapai skor 69,64 dengan predikat sangat inovatif. Namun, target berikutnya adalah predikat terinovatif, yang menuntut peningkatan kualitas sekaligus kuantitas inovasi. Agus menekankan bahwa capaian ini adalah hasil kerja bersama, dan ke depan inovasi harus semakin selaras dengan prioritas pembangunan nasional serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Data menunjukkan bahwa jumlah inovasi yang dilaporkan meningkat signifikan, dari 44 inovasi pada 2024 menjadi 66 inovasi pada 2025. Tingkat kematangan inovasi juga naik dari 87,23 menjadi 95,26. Angka ini menunjukkan adanya perbaikan sistematis dalam proses inovasi, meski tantangan untuk menambah jumlah inovasi tetap terbuka. Septian Putri Palupi, Statistisi Ahli Pertama dari Kementerian Dalam Negeri, menilai bahwa Yogyakarta masih memiliki ruang untuk menambah jumlah inovasi. Menurutnya, daerah dengan predikat terinovatif umumnya memiliki ratusan inovasi. Namun, ia menekankan bahwa penambahan jumlah tidak boleh mengorbankan kualitas. Substansi, kebermanfaatan, dan kelengkapan dokumen pendukung tetap menjadi aspek penting dalam penilaian.