Puluhan Warga Sleman Alami Keracunan Usai Acara Pamitan Haji, Pemerintah Pastikan Penanganan Berjalan
- Bing Image Creator
SLEAMAN, VIVA Jogja - Kasus dugaan keracunan makanan kembali mencuat di Kabupaten Sleman setelah acara pamitan haji yang digelar warga Padukuhan Toragan, Tlogoadi, Mlati, pada Minggu, 3 Mei 2026. Sebanyak 43 warga dilaporkan mengalami gejala diare, demam, hingga sakit perut setelah mengonsumsi nasi kotak yang disediakan dalam acara tersebut. Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan Sleman bergerak cepat dengan mendirikan posko kesehatan dan melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Selasa (05/05/2026) menyampaikan bahwa hingga kini kondisi korban terus membaik. “Sekitar 40 orang sudah ditangani, posko kesehatan sudah berdiri, dan progres korban di rumah sakit maupun posko menunjukkan perbaikan. Tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap memantau perkembangan kasus ini secara intensif dan siap menerima laporan tambahan dari warga yang mungkin masih merasakan gejala.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, Khamidah Yuliati, merinci bahwa mayoritas korban menjalani rawat jalan. Data per 4 Mei 2026 menunjukkan 32 orang ditangani di posko Toragan, tiga orang berobat ke Puskesmas Mlati II, tujuh orang dirawat di RSA UGM, dan satu orang memilih berobat mandiri. Gejala yang dialami korban meliputi diare, sakit perut, pusing, panas dingin, hingga demam.
Dinas Kesehatan bersama Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Yogyakarta telah mengamankan sejumlah sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut. Menu yang diuji meliputi ayam panggang, sambal goreng krecek dengan jeroan, serta sampel feses dari warga yang mengalami gejala. Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memastikan penyebab keracunan, apakah berasal dari kualitas makanan yang menurun atau faktor lain.
Tuan rumah acara, Nayuku Bramantyo, mengaku bahwa gejala keracunan tidak langsung muncul setelah acara berlangsung. Ia baru merasakan dampaknya pada malam hari. “Kami korban juga, di rumah ada tiga orang yang langsung mencret dan demam. Sejak awal sebenarnya sudah ada kecurigaan karena nasi kotak datang tidak tepat waktu dan kondisi kemasan terlihat peyot,” ungkapnya. Nayuku menambahkan bahwa pihak keluarga memesan sekitar 250 paket nasi kotak dari katering, namun mendapati rasa sambal goreng krecek yang agak kecut, meski tidak tercium bau menyengat.