Kongres Anak Bantul 2026: Generasi Muda Menyuarakan Harapan untuk Masa Depan Ramah Anak
- Dok Pemkab Bantul
BANTUL, VIVA Jogja - Kongres Forum Anak Kabupaten Bantul kembali digelar pada Sabtu (09/05/2026), di Gedung Induk Lantai 3 Kompleks Parasamya. Puluhan perwakilan anak dari seluruh kapanewon hadir dalam pertemuan tahunan yang sudah memasuki edisi ke-15 ini. Dengan tema “Wujudkan Inklusif Merajut Partisipatif, untuk Anak Bantul yang Solutif dan Inovatif,” kongres menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi sekaligus belajar tentang kepemimpinan, keberanian, dan kerja sama.
Ketua Forum Anak Bantul, Neiska Aisya Salsabila, menegaskan bahwa tema tahun ini mencerminkan harapan agar seluruh anak di Bantul dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan daerah. Forum Anak, menurutnya, bukan sekadar wadah formal, melainkan ruang inklusif yang merangkul semua anak tanpa terkecuali. Ia menekankan bahwa melalui kongres, anak-anak belajar menjadi pelopor dan pelapor di lingkungan masing-masing, serta berani menyuarakan gagasan demi perubahan yang lebih baik. Neiska percaya bahwa suara anak-anak adalah bagian penting dari proses pembangunan yang tidak boleh diabaikan.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, dalam sambutannya memberikan pesan agar generasi muda menjauhi kenakalan dan perilaku negatif. Ia mengajak anak-anak untuk menggunakan energi masa muda mereka dalam hal-hal positif, seperti berekspresi, berinovasi, dan berkontribusi bagi masyarakat. Aris menegaskan bahwa pemerintah daerah akan mendengarkan setiap aspirasi yang disampaikan dalam kongres ini. Menurutnya, masukan dari anak-anak akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang lebih ramah anak. Ia menekankan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan suara, karena pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kebutuhan generasi muda.
Suasana kongres terasa hangat dan penuh semangat. Anak-anak dari berbagai latar belakang duduk bersama, berdiskusi, dan menyampaikan pandangan mereka tentang isu-isu yang dihadapi di lingkungan masing-masing. Ada yang menyoroti pentingnya ruang bermain yang aman, ada pula yang menekankan perlunya akses pendidikan yang merata. Semua aspirasi itu menjadi bukti bahwa anak-anak Bantul tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang aktif berkontribusi.
Kongres ini juga menjadi momentum untuk menegaskan komitmen Kabupaten Bantul sebagai daerah yang ramah anak. Dengan melibatkan anak-anak secara langsung dalam proses perumusan kebijakan, pemerintah menunjukkan bahwa suara generasi muda memiliki tempat yang layak dalam pembangunan. Hal ini sejalan dengan visi Bantul sebagai daerah yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik warganya, tetapi juga kebutuhan psikologis dan sosial anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa.