Depresiasi Rupiah Uji Ketahanan Perbankan Syariah di Tengah Krisis Global

Dosen Magister Ekonomi UMY Dimas Bagus Wiranatakusuma,
Sumber :
  • DOK UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Mitos bahwa perbankan syariah kebal dari krisis global kini mulai diuji setelah nilai tukar Rupiah anjlok hingga menyentuh Rp17.640 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/05/2026). Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru, tidak hanya bagi bank konvensional, tetapi juga bagi bank-bank syariah yang selama ini dianggap lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Dosen Magister Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph.D., menegaskan bahwa pelemahan Rupiah telah merembet ke sektor riil dan berpotensi mengganggu kualitas pembiayaan syariah.

img_title Haedar Nashir: Pendidikan Holistik Muhammadiyah Sapen Universal School Jadi Tonggak Transformasi Nasional

Dalam wawancara daring, Dimas menjelaskan bahwa prinsip kehati-hatian yang menjadi ciri khas perbankan syariah memang memberikan perlindungan awal. Namun, transmisi pelemahan kurs melalui inflasi produk impor tetap akan menekan sektor usaha yang menjadi nasabah utama bank syariah. Banyak pelaku usaha masih bergantung pada bahan baku impor, mesin produksi, energi, dan barang modal berbasis dolar AS. Kenaikan biaya impor membuat biaya produksi meningkat, margin keuntungan menurun, dan pada akhirnya melemahkan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.

Risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) pun mulai mengintai. Sektor perdagangan, manufaktur, tekstil, farmasi, hingga UMKM berbasis impor disebut sebagai yang paling rentan terhadap pelemahan Rupiah. Jika kondisi ini berlangsung lama, tekanan terhadap kualitas pembiayaan perbankan syariah akan semakin besar karena memburuknya kondisi usaha nasabah.

img_title Rupiah Tertekan, Ekonom UMY Tegaskan Fondasi Ekonomi Nasional Tetap Kokoh

Meski demikian, Dimas menilai perbankan syariah masih memiliki keunggulan dibandingkan bank konvensional. Eksposur langsung terhadap instrumen berbasis valuta asing dan transaksi derivatif internasional relatif lebih kecil, sehingga dampak gejolak global tidak sepenuhnya menghantam perbankan syariah. Namun, tekanan tetap muncul dari sisi likuiditas. Ketika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas Rupiah, biaya penghimpunan dana di sektor keuangan ikut meningkat. Walaupun bank syariah tidak menggunakan sistem bunga, kondisi ini tetap memengaruhi perilaku masyarakat dalam menempatkan dana.

Dalam situasi ketidakpastian tinggi, masyarakat cenderung lebih berhati-hati. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan likuiditas bisa dirasakan industri perbankan syariah. Dimas menilai kondisi ini justru dapat menjadi momentum bagi bank syariah untuk memperkuat kualitas pembiayaan dan manajemen risiko. Prinsip pembiayaan berbasis underlying asset, risk sharing, serta larangan spekulasi menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas industri keuangan syariah.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Rupiah Tertekan, DPRD Yogyakarta Dorong Intervensi Pemkot untuk Selamatkan UMKM