BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem 2026, Pakar UGM Ingatkan Dampak Hidrometeorologi terhadap Ketahanan Pangan
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa pada akhir 2025 hingga memasuki 2026 sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim hujan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini tidak terlepas dari dampak perubahan iklim global yang semakin nyata dan memicu berbagai fenomena cuaca ekstrem. Fenomena tersebut diperkirakan akan menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat, terutama terkait bencana hidrometeorologi dan ketahanan pangan nasional.
Pakar Hidrometeorologi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir muncul siklon tropis yang sangat berpengaruh terhadap cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat di wilayah utara maupun selatan Indonesia. Menurutnya, siklon tropis menjadi salah satu faktor yang memperkuat intensitas hujan dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang disebabkan oleh aktivitas cuaca, iklim, dan kondisi air seperti curah hujan ekstrem, angin kencang, serta perubahan iklim global. Tahun 2026 diprediksi akan didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah berupa banjir dan longsor pada awal tahun, khususnya Januari hingga Mei. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat yang berpotensi menimbulkan banjir dan longsor di wilayah Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada Agustus 2026 dengan potensi hidrometeorologi kering berupa kekeringan dan kebakaran hutan di Jawa Timur, Riau, dan Aceh.
BMKG menekankan bahwa masyarakat perlu memantau informasi cuaca secara berkala, terutama pada Mei 2026 yang masih sering terjadi hujan dengan intensitas tinggi di berbagai provinsi. Peringatan dini ini diharapkan dapat membantu masyarakat dan pemerintah daerah dalam melakukan langkah mitigasi lebih cepat dan tepat.
Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi sepanjang 2026 juga berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan pangan. Banjir dan badai dapat merusak lahan pertanian, mempercepat penyebaran hama, serta memicu gagal panen. Kekeringan yang terjadi pada musim kemarau akan mengganggu fase pertumbuhan tanaman, membuat tanaman kekurangan air, dan berujung pada puso atau gagal panen massal. Kondisi ini akan menurunkan produksi pertanian secara drastis.