Keraton Yogyakarta Mulai Iduladha 2026 Sederhanakan Prosesi Garebeg Besar
- Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Keraton Yogyakarta kembali bersiap menggelar Hajad Dalem Garebeg Besar pada Iduladha 1447 H/2026 mendatang, tepatnya Rabu (20/05/2026). Namun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi kali ini akan berlangsung lebih sederhana sesuai dhawuh atau perintah langsung dari Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Keputusan ini menandai perubahan penting dalam tradisi panjang Garebeg yang selama berabad-abad menjadi salah satu simbol kebudayaan Jawa dan wujud sedekah raja kepada rakyatnya.
KRT. Kusumanegara, Abdi Dalem senior berpangkat Bupati Nayaka, menjelaskan bahwa dhawuh Dalem untuk menyederhanakan prosesi sudah diterima oleh para Abdi Dalem. Menurutnya, setiap instruksi dari Sultan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. “Betul bahwa kami, Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, belum lama ini menerima dhawuh untuk menyederhanakan prosesi Garebeg dimulai dari Garebeg Besar besok,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa seluruh Abdi Dalem akan melaksanakan arahan tersebut sebaik-baiknya demi menjaga keluhuran tradisi sekaligus menyesuaikan dengan kondisi zaman.
KRT. Sindurejo, Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa, menegaskan bahwa perubahan dalam prosesi Garebeg bukanlah hal baru. Sejak masa Sultan terdahulu, bentuk upacara ini kerap menyesuaikan dengan situasi. Pada masa perjuangan kemerdekaan, prosesi pernah disederhanakan karena keterbatasan kondisi. Begitu pula ketika pandemi Covid-19 melanda, Garebeg tetap digelar namun dengan format berbeda. “Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” jelasnya. Esensi yang dimaksud adalah pemberian sedekah raja kepada kawula, yang diwujudkan melalui pembagian ubarampe pareden kepada Abdi Dalem.
Dalam Garebeg Besar kali ini, tidak akan ada gunungan yang keluar dari keraton maupun iring-iringan prajurit seperti biasanya. Seluruh ubarampe pareden hanya akan dibagikan kepada Abdi Dalem di dalam keraton. Dengan demikian, prosesi yang biasanya meriah dengan arak-arakan dan kerumunan masyarakat akan berlangsung lebih tenang. Tradisi pendukung seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik yang biasanya digelar tiga hari sebelum acara juga ditiadakan. Hal ini menjadi konsekuensi dari penyederhanaan yang diinstruksikan Sultan.