Spanduk Permohonan Maaf di Bundaran UGM Picu Polemik, Kampus Tegaskan Identitas Dicatut
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Sebuah spanduk raksasa bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” yang mengatasnamakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat terpasang di Bundaran UGM pada Kamis (21/05/2026) pagi dan langsung menyita perhatian publik. Spanduk berlatar putih itu diapit bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang, berisi pernyataan penyesalan atas terpilihnya Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk periode 2024–2029. Isi spanduk menyinggung kepemimpinan nasional yang dianggap tidak kompeten, kondisi politik yang penuh nestapa, serta carut-marut ekonomi dalam negeri yang dipandang sebagai jalan pintas menuju kehancuran bangsa.
Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, membenarkan keberadaan spanduk tersebut. Ia menegaskan bahwa meski spanduk mencatut nama UGM, pemasangan itu bukan dilakukan oleh pihak kampus dan tidak mewakili pandangan resmi institusi. “UGM membenarkan bahwa ada baliho yang terpasang di gerbang masuk kampus pada pagi hari ini. UGM pada prinsipnya menghormati dan melindungi kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi oleh setiap warga bangsa. Namun, baliho tersebut mencatut identitas UGM dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku,” jelasnya dalam keterangan tertulis.
Made menambahkan bahwa penyampaian aspirasi tetap harus memperhatikan tata kelola, aturan penggunaan ruang kampus, serta tanggung jawab dari pihak pemasang. Karena lokasi pemasangan tidak sesuai dengan peruntukan media informasi di area kampus, spanduk tersebut akhirnya diturunkan oleh petugas Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L) UGM sekitar pukul 09.27. Bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang juga ikut diturunkan, sehingga pada pukul 09.32 area Bundaran UGM kembali bersih.
Sebelum dicopot, spanduk sempat menjadi perhatian pengguna jalan. Beberapa orang berhenti sejenak untuk membaca isi tulisan dan mengabadikan gambar spanduk tersebut. Dugaan muncul bahwa pemasangan dilakukan oleh mahasiswa, meski pihak kampus belum memberikan keterangan resmi mengenai siapa yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM menyatakan dukungan terhadap aksi pemasangan spanduk tersebut. Plt. Ketua BEM UGM 2026, Sheron Adam Funay, menegaskan bahwa spanduk bukan dipasang oleh BEM, melainkan oleh akar rumput mahasiswa UGM. Kendati demikian, BEM ikut meramaikan aksi tersebut karena dianggap mencerminkan keresahan bersama. “Spanduk permohonan maaf itu bukan dipasang oleh BEM, melainkan oleh teman-teman akar rumput UGM. BEM hanya ikut meramaikan karena keresahan itu memang kami rasakan bersama. Kami mendukung aksi yang didasari keresahan mahasiswa,” ujarnya.