106 Hari Membelah Muria, Jalur Sumanding–Duplak Ukir Sejarah Baru Jepara Setelah Penantian Puluhan Tahun
- Vivajogja
VIVAJogja – JEPARA, Jalan baru, harapan baru. Di tengah kabut pegunungan Muria sisi utara, suara ekskavator yang selama empat bulan meraung, kini berganti dengan senyum dan tangis haru warga.
Setelah 106 hari berjibaku dengan tebing curam, longsor, hujan, dan tanah merah yang licin. Jalur penghubung Desa Sumanding, Kecamatan Kembang dengan Dukuh Duplak Desa Tempur, Kecamatan Keling, kabupaten Jepara akhirnya diresmikan.
Peresmian jalur tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo, pada Sabtu (23/5). Ia beserta jajaran pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), langsung menjajal trek yang berada di kawasan pegunungan Muria tersebut.
Wiwit, sapaan akrab Bupati Jepara bahkan mengendarai sendiri motor trail, menanjaki dan menuruni jalur extrim tersebut.
Momentum ini menjadi penanda dan babak baru. Utamanya bagi wilayah pegunungan seperti Desa Tempur yang selama ini dikenal memiliki akses terbatas.
Di samping itu, upaya ini juga sekaligus membuka harapan besar bagi mitigasi bencana, pengembangan wisata, hingga penguatan ekonomi warga di lereng Muria.
Pembukaan jalur ini bermula pada 7 Februari 2026. Sejak hari pertama alat (red-Alber) berat masuk ke kawasan perbukitan, merayap sejengkal demi sejengkal. Proses pengerjaan dilakukan secara perlahan namun pasti, sebab kondisi medan yang ekstrem.
Menurut Wiwit, keberadaan akses baru tersebut bukan hanya untuk memperpendek jalur antardesa, tetapi juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana di wilayah Tempur dan sekitarnya.
Wiwit menegaskan, pihaknya tak lagi ingin ada desa di Kabupaten Jepara yang terisolasi. Seperti Desa Tempur yang terisolasi beberapa hari, usai terjadi longsor besar, pada Jumat-Sabtu (9–10/1) lalu.
Sehingga dengan dibukanya jalur Sumanding-Duplak, sebagai langkah yang jelas. Menjamin kebutuhan infrastruktur dasar bagi masyarakat.
“Alhamdulillah sudah tembus, tinggal melakukan pelebaran dan pengerasan jalan, supaya bisa dijadikan landasan badan jalan,” ungkapnya usai meresmikan dan meninjau jalan, pada Sabtu (23/5).
Jalur yang menghubungkan permukiman warga Sumanding dan Duplak itu, memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 4 kilometer merupakan jalur baru, yang dibuka menggunakan alat berat di kawasan perbukitan.
“Kondisinya cukup bagus. Ini juga sebagai bagian dari mitigasi bencana juga karena kemarin (awal tahun, red) kita mengalami longsor. Tempur sempat terisolasi. Sehingga jalan ini sebagai alternatif, ketika ada hal-hal seperti bencana yang tidak terhindarkan, masih ada akses lain dan alat berat juga bisa masuk,” terangnya.