DIFA NU Jepara Dideklarasikan di Pesantren Inklusi, Perkuat Pemberdayaan Komunitas Difabel
- Vivajogja/Istimewa
Jogja – JEPARA, Semangat inklusivitas dan penghormatan terhadap hak penyandang disabilitas mengemuka dalam deklarasi DIFA NU Jepara yang digelar di Nahdlatul Ulama lingkungan pesantren inklusi Pondok Pesantren Al Anwar An Naqsabandiyah, Desa Gleget, Mayong Lor, Jepara, Kamis (29/5).
Kegiatan dihadiri lebih dari 100 penyandang disabilitas dari berbagai ragam difabel, mulai tuna netra, tuna rungu, tuna wicara hingga tuna daksa yang berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara.
Mereka tergabung dalam berbagai komunitas difabel yang selama ini aktif melakukan pendampingan dan pemberdayaan.
Deklarasi yang hangat dan penuh semangat kebersamaan. Sejumlah komunitas yang tergabung dalam DIFA NU Jepara turut hadir, di antaranya Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ), Persatuan Tuna Netra Indonesia, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, Ikatan Tuli Jepara (ITJ), serta Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia.
Sejak pagi, para peserta memenuhi area pesantren dengan membawa semangat memperjuangkan ruang sosial yang lebih ramah dan inklusif bagi kaum difabel.
Koordinator kegiatan, Zakariya Anshori Chamim, menyampaikan bahwa pembentukan DIFA NU Jepara menjadi langkah penting untuk memperkuat jejaring advokasi, pemberdayaan, serta penguatan spiritual dan sosial bagi komunitas difabel di lingkungan NU.
Menurutnya, penyandang disabilitas tidak boleh hanya dipandang sebagai objek belas kasih, tetapi harus ditempatkan sebagai subjek dalam pembangunan sosial dan keagamaan.
Pengasuh Pesantren Al Anwar An Naqsabandiyah, KH. Mugits Nailufar, menegaskan bahwa NU memiliki basis masyarakat besar hingga tingkat desa. Karena itu, kepedulian terhadap kelompok difabel perlu menjadi gerakan bersama.
Ia menilai keberadaan DIFA NU dapat menjadi ruang kolaborasi antara pesantren, komunitas, dan masyarakat dalam membangun budaya inklusi yang lebih kuat.
Selain deklarasi, kegiatan juga diisi diskusi bertema “NU dan Disabilitas” yang menghadirkan sejumlah akademisi, aktivis, dan tokoh NU. Hadir dalam forum tersebut antara lain Dr. Mayadina Rohma Musfiroh, Dr. Muh Khamdan, Dr. Alex Yusron Al Mufti, serta Ulil Albab.
Dalam diskusi tersebut, Dr. Mayadina menekankan pentingnya perspektif kemanusiaan dalam memandang persoalan disabilitas. Menurutnya, penyandang difabel masih menghadapi berbagai hambatan sosial, akses pendidikan, hingga kesempatan ekonomi akibat minimnya kesadaran publik mengenai hak-hak difabel.