Yogyakarta Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus, Belum Ada Kasus Hingga Mei 2026

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Yogya Lana Unwanah.
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan bahwa hingga Mei 2026 tidak ditemukan kasus Hantavirus di wilayahnya. Kepastian ini disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sebagai bentuk transparansi sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus tersebut. Meski belum ada temuan kasus, kewaspadaan tetap menjadi prioritas karena hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik untuk Hantavirus, sehingga pencegahan menjadi langkah paling efektif.

img_title Bedah Rumah di Prenggan: Sinergi Pemkot Yogya dan Bank BPD DIY Hadirkan Hunian Layak

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, menjelaskan bahwa sempat muncul kabar mengenai kasus Hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta. Namun setelah ditelusuri, kasus yang dimaksud berada di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan statusnya masih sebatas suspek. Pemeriksaan PCR di laboratorium kemudian memastikan hasil negatif. Lana menambahkan, sepanjang 2026 hingga Mei ini tidak ada temuan Hantavirus di Kota Yogyakarta. Sementara pada 2025 tercatat satu kasus yang berhasil sembuh.

Hantavirus sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui gigitan, kontak dengan sekresi tubuh tikus seperti air liur, urin, dan kotoran, serta melalui aerosol dari debu yang terkontaminasi. Kondisi ini bisa terjadi saat seseorang membersihkan gudang berdebu tanpa perlindungan memadai, sementara tikus yang terinfeksi berkeliaran di area tersebut. Risiko penularan meningkat jika masyarakat tidak menggunakan sarung tangan atau masker.

img_title Pemkot Yogya dan Diwa Foundation Bedah Rumah, Prioritaskan Hunian Layak bagi Disabilitas

Gejala klinis Hantavirus terbagi menjadi dua tipe, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang saluran pernapasan akut, dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. Di Indonesia, tipe HFRS lebih banyak ditemukan dengan masa inkubasi sekitar satu hingga dua minggu. Lana menjelaskan, gejala awal biasanya berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri pada bola mata, wajah kemerahan, hingga perdarahan pada konjungtiva mata. Pada fase lanjut, penderita bisa mengalami penurunan tekanan darah, penurunan kesadaran, pembengkakan paru dan perut, serta berkurangnya produksi urine. Karena itu, deteksi dini terhadap gejala demam sejak hari pertama sangat penting.

Halaman Selanjutnya
img_title