UGM Bangkitkan Harapan Kedelai Nusantara Lewat Gerakan Ribuan Petani DIY

Program yang disebut Saekedelai atau Smart Agro Enterprise Kedelai
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng ribuan petani untuk menanam kedelai dalam sebuah program yang disebut Saekedelai atau Smart Agro Enterprise Kedelai. Gerakan ini bukan sekadar penanaman, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menjawab tantangan kebutuhan kedelai nasional yang kian mendesak. Di tengah konsumsi tahu dan tempe yang terus meningkat, produksi kedelai dalam negeri masih jauh dari mencukupi. Data menunjukkan kebutuhan kedelai nasional berada di kisaran 2,67 hingga 2,76 juta ton per tahun, sementara produksi tahun 2024 hanya mencapai sekitar 280 ribu ton. Ketimpangan ini menegaskan urgensi gerakan yang digagas UGM.

img_title UGM Dorong Kemandirian Pangan Lewat Produksi Benih Kedelai Lokal

Program Saekedelai lahir dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan dukungan KADIN DIY, pemerintah daerah, industri, produsen benih, hingga petani. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi kuat untuk mengembangkan inovasi berbasis teknologi pertanian modern. Gerakan bertajuk “Bangkit Kedelai Yogyakarta” diluncurkan pada Minggu, 24 Mei 2026 di Dusun Gamparan, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Acara tersebut dihadiri berbagai pihak, mulai dari Direktorat Pengembangan Usaha UGM, KADIN DIY, hingga dinas pertanian, menandai komitmen bersama untuk memperkuat kedaulatan pangan.

Dr. Atris Suyantohadi, Ketua Pelaksana Program Saekedelai, menegaskan bahwa produksi kedelai dalam negeri masih belum mampu memenuhi lonjakan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, konsumsi berbahan kedelai di Indonesia sangat tinggi, namun sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor. “Produktivitas petani masih rendah, sehingga kita perlu dorongan teknologi dan kolaborasi agar mampu bersaing,” ujarnya. Saekedelai hadir sebagai jawaban dengan mengedepankan teknologi smart farming, mulai dari pemantauan iklim dan cuaca, sistem barcode untuk penelusuran hasil panen, hingga pemanfaatan Sistem Resi Gudang. Dengan pendekatan ini, proses budidaya hingga distribusi kedelai ke industri dapat dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.

img_title Guru Besar UGM Soroti Tata Kelola Program MBG, Minta Penerima Manfaat Lebih Tepat Sasaran

Atris menjelaskan bahwa teknologi Saekedelai dikembangkan untuk mendukung peningkatan produktivitas nasional. Targetnya, produksi kedelai bisa mencapai 2,5 hingga 4 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produksi nasional yang masih berkisar 1,8 ton per hektare. Optimisme ini bukan tanpa alasan. Program telah melibatkan lebih dari 2.500 petani dengan perluasan lahan hingga 300 hektare. Dengan skala sebesar itu, diharapkan suplai kedelai bagi industri pangan dapat lebih terjamin, sekaligus menghasilkan benih unggul dengan kualitas lebih baik. “Harapannya, tahu dan tempe yang kita konsumsi ke depan tidak lagi bergantung pada kedelai impor, tetapi berasal dari produksi dalam negeri,” tambahnya.

Halaman Selanjutnya
img_title