Harlah ke-18, Satria DIY Hijaukan Lereng Merapi dengan 1.800 Pohon
- jogja.viva.co.id/ Cahyo PE
SLEMAN, VIVA Jogja - Memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-18, Pimpinan Daerah (PD) Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar aksi peduli lingkungan dengan menanam 1.800 bibit pohon di kawasan Wisata Teras Merapi, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Sabtu, 30 Mei 2026. Gerakan bertajuk “Satria Beraksi untuk Negeri” ini memfokuskan penanaman pada pohon produktif seperti kopi, alpukat, dan sengon, serta dilaksanakan serentak di sejumlah kabupaten dan kota di DIY.
Ketua PD Satria DIY, Arief Sujatmiko, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial ulang tahun organisasi, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian alam sekaligus upaya mendorong ekonomi warga. “Momentum Harlah ke-18 ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan konsolidasi organisasi, tetapi juga menjadi wujud kepedulian nyata Satria terhadap kelestarian alam. Pohon-pohon yang ditanam hari ini diharapkan mampu menjaga lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di masa depan,” ujarnya.
Didampingi Sekretaris M. Uke Anggoro Widagdo, Bendahara Hery Prabowo, dan Ketua Panitia Ahmad Ali Imron, Miko menambahkan bahwa lereng Merapi memerlukan perhatian khusus agar tetap hijau. Pemilihan kopi dan alpukat dinilai sebagai solusi cerdas yang menggabungkan aspek konservasi dengan kesejahteraan ekonomi. “Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus dijaga. Ini sejalan dengan spirit Partai Gerindra yang selalu mengedepankan aksi nyata untuk masyarakat,” tegasnya.
Ketua Panitia Penanaman Pohon, Ahmad Ali Imron, menjelaskan bahwa jumlah 1.800 bibit pohon dipilih sebagai simbol usia organisasi yang memasuki 18 tahun. “Jumlah 1.800 bibit pohon ini melambangkan usia Satria yang ke-18 tahun. Kami berharap semangat dan kekompakan organisasi tetap terjaga hingga masa mendatang,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya perawatan berkelanjutan agar penanaman tidak berhenti sebagai simbol semata, melainkan menjadi investasi masa depan bagi warga sekitar.
Langkah penghijauan ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kalurahan Glagaharjo. Lurah Glagaharjo, Suroto, menilai bantuan bibit kopi Arabika berpotensi besar memperkuat sektor pertanian, terutama setelah aktivitas pertambangan di lereng Merapi menurun sejak 2020. “Kami berharap kopi dapat menjadi sumber penghasilan tahunan masyarakat. Saat ini tanaman kopi yang dikembangkan warga sudah mulai berbuah dan menjadi komoditas unggulan di kawasan ini,” ujarnya.