Kasus Ibu Melakban Anak di Pleret Bantul, Polisi Dalami Dugaan Kekerasan dan Faktor Psikis

Kekerasan pada anak terjadi di Bantul
Sumber :
  • Bing Image Creator

BANTUL, VIVA Jogja – Kasus balita perempuan di Dusun Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, yang ditemukan dalam kondisi mulut, tangan, dan kaki terikat lakban di rumah kontrakan yang ditinggali bersama ibu kandungnya, memicu perhatian masyarakat.  Aparat kepolisian yang bergerak cepat melakukan evakuasi serta pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait. Korban yang masih berusia tiga tahun berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat, meski sempat membuat warga sekitar panik.

img_title Bantul Genjot Program Pro-Rakyat di Hari Jadi ke-195, Sultan Tekankan Eksekusi Nyata

Polsek Pleret bersama Polres Bantul segera melakukan pemeriksaan terhadap ibu kandung korban, TKS, perempuan berusia 25 tahun asal Tulang Bawang, Lampung, yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta. Dari hasil pemeriksaan, TKS mengaku melakban anaknya dengan alasan ingin beristirahat dan melepas penat setelah merasa lelah mengurus anak seorang diri. Ia tidak mempertimbangkan risiko yang bisa terjadi pada anaknya. Suaminya, Ridho Fahriza, pria kelahiran Medan yang bekerja di Jakarta dan hanya pulang sebulan sekali, tidak berada di rumah saat kejadian. Kondisi ini membuat TKS harus mengasuh anak tanpa pendampingan, yang diduga menjadi salah satu pemicu tindakannya.

Ridho, ayah korban, menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang timbul di masyarakat maupun media sosial. Ia menegaskan tidak berniat melaporkan istrinya dan berharap masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Sebagai kepala rumah tangga, ia berkomitmen memperbaiki hubungan keluarga agar peristiwa serupa tidak terulang. Saat ini, anak korban telah dititipkan dan dirawat oleh keluarga ayahnya, yakni Fitria Isnaini, mahasiswa asal Gunungkidul, untuk memastikan kondisi psikologis dan fisiknya tetap terjaga.

img_title Ikut Tren Global Pembatasan Medsos Anak? Hambat Hak Anak akan Informasi

Polisi masih mendalami kasus ini dengan menekankan aspek perlindungan anak. Meski korban tidak mengalami luka fisik serius, tindakan melakban anak tetap dikategorikan sebagai bentuk kekerasan yang berbahaya. Aparat menegaskan proses pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, termasuk menilai kondisi psikis ibu korban. Dugaan sementara menyebutkan bahwa TKS mengalami tekanan mental akibat kelelahan mengurus anak seorang diri, yang dalam istilah medis dikenal sebagai baby blues syndrome. Kondisi ini sering dialami ibu muda yang baru pertama kali memiliki anak, ditandai dengan rasa lelah, stres, hingga perilaku yang tidak rasional.

Halaman Selanjutnya
img_title