UGM Ungkap Dugaan Gas Hidrogen dan Fosfin di Balik Fenomena Rumah Api Seyegan

Tim UGM dan UPN Veteran Yogyakarta teliti kemunculan api misterius di rumah warga Sleman
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani

SLEMAN,  VIVA Jogja - Fenomena munculnya api secara misterius di sebuah rumah kontrakan di Seyegan, Sleman, terus menjadi perhatian publik. Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama tim lintas disiplin melakukan serangkaian observasi dan pengukuran sejak akhir Mei 2026 untuk mencari penyebab ilmiah dari kejadian yang meresahkan warga tersebut. Hasil sementara menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara kemunculan api dengan keberadaan gas hidrogen yang diduga berasal dari proses fermentasi limbah organik.

img_title UGM Lantik 620 Insinyur Baru, Tekankan Integritas dan Tanggung Jawab Profesional

Observasi pertama dilakukan pada Sabtu, 30 Mei 2026, dipimpin Prof. Alva Edi Tontowi. Tim menggunakan kamera termal untuk mendeteksi anomali suhu di lokasi munculnya api. Hasilnya menunjukkan suhu sekitar 29 derajat Celsius, masih dalam rentang ambien normal, sehingga tidak ditemukan anomali panas signifikan. Namun, pihak Gegana Polda DIY melaporkan adanya deteksi gas metana (CH4) di titik api. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa fenomena api berkaitan dengan keberadaan gas mudah terbakar.

Pengukuran lanjutan dilakukan pada Senin, 1 Juni 2026, oleh tim yang dipimpin Prof. Agung Harijoko dari Teknik Geologi. Hasilnya lebih mengejutkan karena terdeteksi anomali gas hidrogen (H2) dengan kadar cukup tinggi. Di kamar mandi yang sempat muncul api, konsentrasi hidrogen mencapai 0,11. Bahkan, saat api kembali muncul di salah satu kamar, pengukuran menunjukkan kadar hidrogen melonjak hingga 0,40. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa gas hidrogen berperan besar dalam memicu kebakaran spontan di rumah tersebut.

img_title Polresta Sleman Intensif Dalami Misteri Api di Seyegan

Tim PKPE kembali melakukan pengukuran pada Rabu, 3 Juni 2026, dengan melibatkan Prof. Sarto dan Prof. Chandra dari Teknik Kimia. Hasilnya konsisten, tidak ditemukan gas lain yang mudah terbakar selain hidrogen. Tim berkesimpulan bahwa kunci penyelesaian kasus ini adalah menelusuri sumber gas. Ada dua kandidat utama: limbah cair dari aktivitas rumah tangga, khususnya pemotongan ayam, atau gas tanah. Untuk memastikan, tim berencana melakukan penggalian dangkal di beberapa titik pada Kamis, 4 Juni, serta menganalisis sampel limbah cair di laboratorium.

Kesimpulan sementara menyebutkan bahwa keluarnya api berasosiasi dengan gas hidrogen. Gas ini diduga kuat berasal dari fermentasi limbah organik, terutama sisa pemotongan ayam. Selain hidrogen, tim menduga ada gas fosfin (PH3) yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam. Fosfin dikenal sangat mudah terbakar pada suhu kamar, namun sulit terdeteksi karena langsung habis ketika bereaksi dengan oksigen. Diduga, fosfin memicu terbakarnya hidrogen yang keluar bersamaan, sehingga menimbulkan api spontan. Dugaan ini masih memerlukan penelitian lebih mendalam.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Tutup Penyelidikan, Titik Api Seyegan Dipastikan Akibat Residu Kebakaran