Pemkab Gunungkidul Berikan Perlindungan Anak Korban Kekerasan
- Dok Pemkab Gunungkidul
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Kasus kekerasan terhadap balita berinisial ACB (3) mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Bupati Endah Subekti Kuntariningsih bersama jajaran terkait turun langsung ke Patuk, Jumat (05/06/2026) petang, untuk memastikan kondisi anak yang kini tinggal bersama neneknya dalam keadaan aman. Kehadiran Bupati bersama Kepala Dinas Sosial, Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Panewu, serta aparat TNI dan Polri menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan pendampingan menyeluruh bagi korban.
Dalam peninjauan tersebut, ACB tampak sehat, ceria, dan mulai merasa nyaman bersama keluarga besar ayahnya. Kondisi ini memberi kelegaan setelah sebelumnya publik digemparkan oleh kabar bahwa sang anak ditinggalkan oleh ibu kandungnya dalam keadaan tangan, kaki, dan mulut terikat lakban. Bupati Endah menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan psikologis dan kesehatan anak, serta memastikan ia mendapatkan perlindungan penuh. “Kami berkomitmen memberikan perlindungan penuh. Kami juga menyiapkan safety house bagi para korban kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.
Meski demikian, untuk kasus ACB diputuskan bahwa ia tetap tinggal bersama keluarga besar ayahnya di Patuk. Keputusan ini diambil karena lingkungan keluarga dinilai mampu memberikan kasih sayang dan rasa aman yang dibutuhkan anak. Endah juga mengungkapkan latar belakang keluarga korban, di mana sang ayah merupakan warga Patuk, Gunungkidul, sementara ibunya berasal dari Tulang Bawang, Lampung.
Langkah cepat pemerintah ini menjadi bukti bahwa isu perlindungan anak tidak bisa dianggap sepele. Kehadiran pejabat daerah hingga aparat keamanan dalam kunjungan tersebut memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus kekerasan anak. Lebih dari itu, pemerintah juga menegaskan komitmen jangka panjang dengan menyediakan rumah aman bagi korban kekerasan, sehingga mereka memiliki tempat perlindungan sementara sebelum mendapatkan solusi permanen.
Kasus ACB menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan nyata di tengah masyarakat. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengimbau seluruh warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, memastikan tidak ada anak yang terlantar atau mengalami kekerasan. Endah menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga dan melindungi anak-anak, karena perlindungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. “Kami berharap masyarakat lebih peduli dalam menjaga, mencintai, dan melindungi anak-anak di lingkungan masing-masing,” katanya.