Satu Dekade Grebeg UMKM: Momentum Nyawiji untuk Ekonomi DIY yang Berdaya Saing

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo
Sumber :
  • Dok BI Yogyakarta

YOGYAKARTA, VIVA Jogja -  Memasuki tahun 2026, Grebeg UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta menandai perjalanan satu dasawarsa sejak pertama kali digagas oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY pada 2017. Gelaran yang kini bersinergi dengan program Digitalisasi Jogja untuk Semua nan Istimewa (DJAMUAN Istimewa) hadir dengan tema “Nyawiji: UMKM Mukti, Ekonomi Mumpuni.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan refleksi atas semangat kebersamaan, kolaborasi, dan tekad untuk menjadikan UMKM sebagai penggerak utama perekonomian daerah yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Rangkaian acara Grebeg UMKM x DJAMUAN Istimewa 2026 berlangsung selama tiga hari dan ditutup pada Minggu, 7 Juni 2026 di Atrium Hall Jogja City Mall. Penutupan berlangsung meriah dengan kehadiran Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, jajaran Organisasi Perangkat Daerah se-DIY, perwakilan Dekranasda, pimpinan perbankan, serta berbagai pemangku kepentingan. Dalam kesempatan itu, diumumkan pula pemenang sejumlah kompetisi yang menjadi bagian dari festival, mulai dari Championship Pejuang Kopi Nusantara (CANGKIR BARISTA), Lomba Bankers Wear Wastra, Kompetisi Robotika Logistic Challenge, hingga lomba konten kreatif belanja produk UMKM. Tak ketinggalan, apresiasi diberikan kepada UMKM yang berpartisipasi dalam pameran Grebeg sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka terhadap ekonomi lokal.

Dalam sambuatn tertulisnya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo menyampaikan, capaian Grebeg UMKM tahun ini menunjukkan hasil yang signifikan. Sepanjang rangkaian kegiatan, tercatat 54.723 pengunjung hadir, dengan nilai penjualan UMKM mencapai Rp9,91 miliar. Selain itu, kegiatan business matching berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp15 miliar. Delapan UMKM berhasil menembus pasar ekspor, sementara 30 UMKM telah menyusun laporan keuangan melalui aplikasi SIAPIK. Dari sisi ekonomi syariah, tercatat 200 UMKM dan empat rumah potong hewan memperoleh sertifikat halal, 20 orang tersertifikasi sebagai juru sembelih halal, serta 20 orang tersertifikasi nadzir. Tiga UMKM lolos kurasi Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA), dan sebanyak 1.508 masjid telah terkoneksi dengan sistem ZISWAF digital. Tingkat literasi ekonomi syariah pun meningkat hingga skala 5,6 dari 6, menandakan antusiasme masyarakat terhadap produk halal dan sistem keuangan syariah.

img_title 383 Jamaah Haji Kulonprogo Disambut Hangat, Pemkab Siapkan Peningkatan Layanan Haji 2027

Perkembangan digitalisasi sistem pembayaran di DIY juga menjadi sorotan penting. Hingga April 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 1.081.745 orang, tumbuh 12,73 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah merchant QRIS pun meningkat menjadi 1.115.076, dengan pertumbuhan 21,96 persen. Transaksi digital melonjak pesat, mencatat 198 juta transaksi sepanjang tahun atau naik 62,19 persen secara tahunan. Angka ini menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata bagi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi usaha.

Halaman Selanjutnya
img_title