Fenomena Api Misterius di Seyegan: Antara Dugaan Gas Hidrogen, Retakan Tanah, dan Penantian Kepastian Ilmiah
- Dok UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Fenomena api yang muncul secara acak di rumah Agus Yani Mujiyanto, warga Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih menjadi teka-teki besar yang belum terpecahkan. Sejak pertama kali muncul, titik api terus bermunculan hingga memasuki hari ke-18, dengan total mencapai 118 kali kejadian. Api yang tiba-tiba menyala di berbagai sudut rumah, mulai dari dapur, ruang tengah, halaman belakang, hingga kandang ayam, telah menimbulkan keresahan mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar. Meski berbagai tim peneliti dari lintas instansi telah turun tangan, kepastian ilmiah mengenai penyebab fenomena ini belum juga ditemukan.
Keluarga Agus Yani kini hanya bisa berharap pada hasil investigasi yang dilakukan oleh tim ahli dari UPN, UGM, BPPTKG, BPBD, hingga Gegana Satbrimob Polda DIY. Mereka menunggu jawaban yang bisa memberikan kepastian sekaligus solusi atas teror api yang terus berulang. “Semoga ini bisa segera selesai dan segera ketemu apa yang menjadi titik masalah utamanya,” ungkap Mutfiana, anak pemilik rumah, penuh harap. Hingga kini, keluarga hanya bisa bersiap dan berdoa, sembari menanti langkah konkret dari pemerintah daerah dan para peneliti.
Salah satu temuan penting datang dari tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM. Dengan menggunakan teknologi georadar, tim berhasil mendeteksi adanya retakan di bawah tanah pada kedalaman 15–20 meter. Retakan ini diduga menjadi jalur migrasi gas yang kemudian menyulut api di permukaan. Menurut Saptono Budi Samudro, koordinator penelitian, sifat fisik gas memungkinkan pergerakan melalui celah sekecil apa pun, sehingga retakan yang ditemukan bisa menjadi jalur keluarnya gas ke permukaan. Meski demikian, Saptono menekankan bahwa retakan hanyalah jalur, bukan sumber gas itu sendiri. Kepastian mengenai jenis gas yang memicu kebakaran masih harus dibuktikan melalui penelitian lanjutan.
Sementara itu, tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM mengajukan dugaan bahwa gas hidrogen menjadi pemicu utama fenomena ini. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya akumulasi hidrogen di beberapa titik rumah, termasuk di kamar mandi dengan kadar 0,11 dan di lokasi terbakar baju dengan kadar 0,40. Gas hidrogen ini diduga terbentuk dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam. Selain hidrogen, tim juga mengasumsikan adanya gas fosfin (PH3) yang berasal dari material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam. Gas fosfin yang sangat mudah terbakar pada suhu kamar diduga memicu terbakarnya hidrogen ketika muncul bersamaan. Namun, gas fosfin sulit terdeteksi karena langsung habis terbakar saat bertemu oksigen.