Seruan Global Animal Friends Jogja: Mengakhiri Ekspor Hewan Hidup Demi Kesejahteraan

Seruan penghentian ekspor hewan hidup
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Animal Friends Jogja (AFJ) bergabung bersama koalisi organisasi perlindungan hewan internasional menyerukan penghentian ekspor hewan hidup. Seruan ini disampaikan bertepatan dengan Hari Kesadaran Internasional Penghapusan Ekspor Hewan Hidup (Ban Live Exports International Awareness Day), sebuah momentum yang menyoroti penderitaan jutaan hewan ternak setiap tahun akibat praktik transportasi jarak jauh.

img_title Konsil Veteriner Indonesia Diluncurkan di Semarang: Tonggak Sejarah Profesi Kedokteran Hewan Menuju Standar Global

Dipimpin oleh Compassion in World Farming, koalisi ini mendesak World Organisation for Animal Health (WOAH) untuk memperbarui pedoman global mengenai transportasi hewan. Standar yang berlaku saat ini dinilai sudah usang, masih mengacu pada kerangka kerja belasan tahun lalu, sehingga tidak lagi relevan dengan perkembangan ilmu kesejahteraan hewan. Para penandatangan surat terbuka mendesak 183 negara anggota WOAH, termasuk Indonesia, untuk memperkuat standar perlindungan hewan dan mengambil langkah nyata menuju penghapusan bertahap ekspor hewan hidup jarak jauh.

Animal Friends Jogja menekankan bahwa praktik ekspor hewan hidup bukanlah keharusan. Alternatif perdagangan yang lebih aman dan efisien tersedia, seperti distribusi daging, karkas, serta material genetik untuk pembiakan. Dengan cara ini, kebutuhan pasar tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan kesejahteraan hewan. Seruan AFJ juga ditujukan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian agar Indonesia berperan aktif dalam konsultasi WOAH, sekaligus memperkuat regulasi nasional terkait transportasi hewan.

img_title PB PDHI dan AFKHI Galang Dukungan Fraksi DPR untuk RUU Kedokteran Hewan

Penderitaan hewan dalam perjalanan panjang bukanlah hal baru. Setiap tahun, jutaan hewan ternak dipaksa menempuh perjalanan laut dan darat selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Mereka harus menghadapi kepadatan berlebih, suhu ekstrem, kelaparan, dehidrasi, cedera, stres berat, bahkan kematian. Tragedi terbaru terjadi di lepas pantai Oman, di mana sekitar 4.000 domba dan kambing mati akibat tenggelamnya kapal pengangkut. Insiden ini disebut sebagai bagian dari “bencana berulang” yang telah merenggut puluhan ribu nyawa hewan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain menimbulkan penderitaan luar biasa, transportasi hewan hidup juga membawa risiko kesehatan masyarakat. Kondisi pengangkutan yang padat dan tidak higienis, ditambah penurunan daya tahan tubuh hewan selama perjalanan, meningkatkan potensi penyebaran penyakit zoonosis lintas negara. Risiko ini menambah urgensi untuk segera menghentikan praktik ekspor hewan hidup.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Rizal Bawazier Desak Kementerian Koperasi Tuntaskan Kasus Tiga BMT Bermasalah di Pekalongan