Ekonomi Kreatif Jadi Tulang Punggung Baru Kota Yogyakarta
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Plaza Malioboro menjadi saksi bagaimana Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan. Dalam kegiatan IDE.IND 2026 yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo menekankan bahwa di tengah keterbatasan sumber daya alam, Yogyakarta harus bertumpu pada kualitas sumber daya manusia dan kreativitas masyarakatnya.
Menurut Hasto, karakteristik Yogyakarta berbeda dengan daerah lain. Wilayah yang relatif kecil, jumlah penduduk padat, serta masyarakat heterogen membuat kota ini tidak bisa mengandalkan sumber daya alam. “Kota Yogyakarta tidak punya sumber daya alam, tetapi mempunyai sumber daya manusia. Sehingga kami harus mengandalkan ekonomi kreatif untuk bisa meningkatkan pendapatan di Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Hasto juga menyoroti fenomena aging population yang kini dihadapi Yogyakarta, dengan persentase penduduk lanjut usia mencapai 17,8 persen, tertinggi di Indonesia. Kondisi ini, menurutnya, harus direspons dengan pengembangan ekonomi kreatif yang mampu membuka ruang produktivitas bagi perempuan maupun lansia. “Kami perlu menciptakan ekonomi kreatif untuk pemberdayaan perempuan dan lansia yang masih bisa berkarya. Ini menjadi bagian penting dalam membangun tulang punggung perekonomian Yogyakarta,” katanya.
Modal kuat untuk mengembangkan ekonomi kreatif sudah dimiliki Yogyakarta. Keberadaan Institut Seni Indonesia (ISI), para budayawan dan seniman, serta berbagai event kreatif yang telah dikenal secara nasional seperti Customfest, ArtJog, dan Jogja Wayang Night Carnival menjadi fondasi penting. Hasto menilai kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya Yogyakarta, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. “Kami ingin menciptakan destinasi-destinasi melalui event yang ada di Kota Yogyakarta agar kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara, bisa meningkat,” ungkapnya.
Selain sektor seni dan budaya, Pemkot Yogyakarta juga berupaya menghadirkan inovasi ekonomi kreatif yang berangkat dari penyelesaian persoalan perkotaan. Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, pembangunan biopori dan fasilitas pengomposan, hingga pengembangan waste station dengan insentif digital menjadi contoh nyata. Bahkan hasil olahan sampah mulai dimanfaatkan sebagai material bangunan untuk rumah layak huni, sementara wisata berbasis sungai di kawasan Code, Winongo, dan Gajah Wong terus dikembangkan. “Banyak kreativitas baru yang bisa dibangun sambil menyelesaikan persoalan kota. Jadi tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat,” jelas Hasto.