Alat Pelacak di Mobil Eks Ketua BEM UGM : Polda DIY Dorong Tiyo Lapor Resmi
- DOK UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta meminta mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada periode 2025, Tiyo Ardiyanto, segera membuat laporan resmi terkait temuan dua alat pelacak misterius di mobil yang dikendarainya. Permintaan ini disampaikan Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, yang menegaskan bahwa laporan resmi menjadi dasar hukum penting bagi aparat untuk melakukan penyelidikan secara prosedural, objektif, dan mendalam. Hingga kini, pihak kepolisian belum menerima pengaduan resmi, meski aparat sudah turun ke lapangan untuk mengumpulkan informasi awal demi menjaga situasi tetap kondusif.
Kasus ini mencuat setelah Tiyo mengaku merasa diintai oleh orang tak dikenal sejak menghadiri diskusi di Universitas Muhammadiyah Semarang pada Jumat malam, 12 Juni 2026. Ia menyadari ada sejumlah orang asing yang membuntuti dan mendokumentasikan aktivitasnya secara terang-terangan. Kecurigaan itu semakin kuat ketika sepanjang perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta, ponselnya mendeteksi notifikasi pelacak asing. Usai mengikuti aksi demonstrasi “Rakyat Memanggil” di Gejayan, Tiyo memeriksa mobilnya dan menemukan sebuah kotak bermagnet menempel di bodi belakang. Tidak lama kemudian, saat berada di bandara untuk kembali ke Semarang, ponselnya kembali mendeteksi sinyal pelacak. Setelah diperiksa, ditemukan alat kedua berbentuk lingkaran pipih yang dilakban hitam di dekat ban kanan belakang. Ia menduga alat tersebut baru saja dipasang saat dirinya berada di Yogyakarta.
Menurut Tiyo, keberadaan alat pelacak itu bukan sekadar kebetulan, melainkan bentuk teror yang sengaja ditujukan untuk membuatnya sadar bahwa setiap langkahnya diawasi. “Ini sengaja dipasang untuk saya ketahui, supaya jadi alarm bahwa ke manapun saya pergi ada orang-orang yang tahu dan mengamati,” ungkapnya. Meski demikian, ia belum mendatangi Polda DIY untuk melapor. Ia mengaku masih mempertimbangkan opsi hukum sembari melakukan investigasi mandiri. “Saya sedang pertimbangkan untuk laporkan, sembari lakukan investigasi secara mandiri,” katanya.
Kronologi yang diungkap Tiyo menunjukkan bahwa alat pelacak pertama ditemukan dalam kondisi bersih, seolah baru dipasang ketika ia berada di Yogyakarta. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa ada pihak yang sengaja menargetkan dirinya. Ia menuturkan bahwa notifikasi pelacak muncul berulang kali, bahkan setelah alat pertama direndam air semalaman. Ketika notifikasi kembali muncul di bandara, pencarian ulang menemukan alat kedua yang berbeda bentuk. “Saya tidak tahu apakah dua alat ini saling berkaitan atau dipasang di waktu berbeda. Tapi jelas ini membuat saya semakin waspada,” ujarnya.