Yogyakarta Perkuat Layanan Kesehatan Jiwa Lewat Kolaborasi dengan Kolegium Psikologi Klinis
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan jiwa dengan menandatangani nota kesepakatan bersama Kolegium Psikologi Klinis Indonesia. Penandatanganan yang berlangsung di Ruang Yudistira Balai Kota pada Senin (15/06/2026) itu menjadi tonggak penting dalam penyelenggaraan wahana praktik klinis lapangan Program TITIAN, sebuah program peningkatan pengembangan profesi psikologi klinis KKNI level 7. Langkah ini tidak hanya mendukung pengembangan kompetensi psikolog klinis, tetapi juga memperkuat layanan kesehatan mental di fasilitas kesehatan Kota Yogyakarta.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan tantangan besar di era disrupsi. Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup membawa dampak yang sering tidak terlihat, namun berpotensi melemahkan ketahanan mental masyarakat. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak kini lebih banyak beraktivitas dengan gawai di ruang pribadi, yang tanpa disadari dapat membuat mental rapuh ketika menghadapi tekanan. “Mental yang tidak pernah ditempa akan menjadi lemah, sama seperti otot yang tidak pernah dilatih,” ujarnya.
Hasto menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa hanya berfokus pada kesehatan fisik. Kesehatan jiwa harus mendapat perhatian yang sama besar karena kualitas manusia ditentukan oleh keseimbangan antara jiwa dan raga. Ia mengingatkan bahwa tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa, sebuah prinsip yang harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan. Pemerintah Kota Yogyakarta, lanjutnya, telah melakukan berbagai upaya mulai dari deteksi dini di sekolah dan puskesmas hingga memperkuat sistem rujukan ke rumah sakit. Guru bimbingan konseling disebut memiliki peran penting dalam mengidentifikasi siswa yang berisiko mengalami gangguan mental sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Sebagai bagian dari penguatan layanan, Hasto juga mendorong lahirnya program berbasis komunitas berupa Rumah Sehat Jiwa. Program ini diharapkan menjadi ruang pendampingan bagi penyintas gangguan kesehatan mental setelah menjalani perawatan, sekaligus mendukung proses pemulihan dan reintegrasi sosial. “Kita perlu layanan yang lebih komprehensif. Rumah Sehat Jiwa berbasis komunitas bisa menjadi solusi untuk mendukung pemulihan mereka yang membutuhkan,” tegasnya.