Kenaikan Harga BBM, Distribusi Pangan Jadi Titik Rawan dalam Rantai Agribisnis

Petugas SPBU mengisi Pertamax
Sumber :
  • VIVA Jogja/ist

SLEMAN, VIVA Jogja - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 memunculkan kekhawatiran baru di sektor pertanian dan pangan. Meski tidak semua aktivitas produksi pertanian bergantung langsung pada Pertamax, lonjakan harga energi ini diperkirakan akan menekan biaya di berbagai mata rantai agribisnis. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani dan pelaku usaha di sektor hulu, tetapi juga berimbas pada distribusi dan pemasaran hasil pertanian. Kondisi ini berpotensi mengurangi keuntungan pelaku usaha sekaligus memengaruhi harga yang diterima konsumen.

img_title UGM Kukuhkan Dominasi Seni di Peksimiprov DIY 2026

Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Hani Perwitasari, menilai bahwa kenaikan harga Pertamax akan memberikan dampak signifikan terhadap sektor agribisnis. Ia menjelaskan bahwa mobilitas pangan masih sangat bergantung pada transportasi, sehingga perubahan biaya energi akan memengaruhi produsen, pelaku distribusi, hingga pedagang. Biaya operasional yang meningkat pada akhirnya akan mengurangi margin keuntungan yang selama ini menjadi penopang usaha.

Menurut Hani, dampak kenaikan BBM dapat dirasakan di sepanjang rantai agribisnis, mulai dari proses produksi, pascapanen, distribusi, hingga pemasaran. Setiap tahapan membutuhkan dukungan energi dan transportasi dalam jumlah besar, sehingga perubahan harga BBM akan langsung memengaruhi struktur biaya usaha. Namun, ia menekankan bahwa sektor distribusi menjadi bagian yang paling rentan karena berkaitan langsung dengan mobilitas barang dari sentra produksi menuju pasar. Semakin jauh jarak distribusi, semakin besar pula potensi kenaikan biaya yang harus ditanggung pelaku usaha.

img_title Gamagora: Inovasi Padi UGM yang Menguatkan Ketahanan Pangan dari Madiun

Meski biaya operasional meningkat, Hani menilai bahwa kenaikan harga pangan di tingkat konsumen tidak selalu terjadi secara langsung. Pelaku usaha biasanya berusaha mempertahankan daya beli masyarakat dengan berbagai penyesuaian sebelum menaikkan harga jual. Strategi yang kerap dilakukan antara lain menekan margin keuntungan, mengurangi ukuran produk, atau melakukan efisiensi dalam proses usaha. Langkah ini dipilih untuk menghindari risiko kehilangan konsumen yang beralih ke produk lain dengan harga lebih murah.

Tekanan akibat kenaikan biaya energi juga berpotensi dirasakan oleh pelaku usaha kecil dan rumah tangga berpendapatan rendah. Hani mencontohkan pelaku usaha pengolahan kopi yang menghadapi kenaikan biaya produksi, namun belum dapat menaikkan harga jual karena mempertimbangkan kondisi pasar. Situasi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha sering kali harus menyerap sebagian beban kenaikan biaya agar tetap mampu mempertahankan pelanggan. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh semakin terbatas dan ruang gerak usaha menjadi lebih sempit.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Bangun Smart Eco Bioproduction, Dorong Swasembada Pangan dan Kedaulatan Benih Nasional