UGM Dorong Swasembada Garam Lewat Inovasi Teknologi SWRO di Pantai Selata

UGM berikan solusi meningkatkan kualitas produksi garam
Sumber :
  • Dok Humas UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Indonesia, dengan garis pantai yang panjang, masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan swasembada garam. Persoalan ini tidak hanya terkait dengan proses produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor teknologi, iklim, distribusi, hingga kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir.

img_title Pelaku Tambang Ilegal di Pancur Terancam Pidana, ESDM Soroti Ancaman Rusaknya Cadangan Air

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ir Alim Isnansetyo, menegaskan bahwa upaya meningkatkan produksi garam nasional tidaklah mudah. Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Integrasi Pemanfaatan Air Tawar pada Produksi Garam Laut dengan Teknologi SWRO (Seawater Reverse Osmosis) sebagai Air Minum” yang digelar di Kulonprogo, ia memperkenalkan teknologi SWRO sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas produksi garam sekaligus menyediakan air bersih bagi masyarakat pesisir.

Menurut Prof Alim, teknologi SWRO memungkinkan air laut tidak hanya diolah menjadi garam, tetapi juga menjadi air tawar yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan demikian, teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi garam sekaligus memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir. Ia menekankan bahwa integrasi teknologi ini dapat menjadi jalan keluar bagi keterbatasan akses air bersih yang selama ini masih menjadi kendala di banyak wilayah pesisir.

img_title Bupati Witiarso Usulkan APBD 2027 Rp2,5 Triliun, Lima Isu Strategis Jadi Prioritas

Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr dr Rustamadji, menambahkan bahwa pengembangan garam nasional telah lama menjadi perhatian UGM dan terus dijadikan program prioritas. Menurutnya, forum diskusi ini menjadi sarana penting untuk mempertemukan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Melalui kolaborasi antara akademisi, pemerintah, kelompok petani garam, dan pelaku usaha, ia berharap inovasi teknologi dapat diterapkan langsung untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan Purworejo, Wiyoto Harjono, menyampaikan apresiasi atas pengembangan teknologi SWRO yang diintegrasikan dengan produksi garam di kawasan pesisir selatan Purworejo. Ia menilai kualitas garam lokal sudah cukup baik, namun tantangan utama tetap pada kuantitas dan kontinuitas produksi. Menurutnya, potensi garam lokal belum berkembang optimal karena belum terbangunnya keterhubungan yang kuat antara produsen dan pasar. Ia berharap forum diskusi ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam memperkuat ekosistem garam, mulai dari produksi, pengolahan, pemasaran, hingga investasi berbasis potensi pesisir.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Rumah Masa Kecil Etik Suryani Tak Luput dari Penggeledahan KPK, Dua Koper Dibawa Penyidik