BMKG DIY Umumkan Status Waspada Kekeringan, Bantul dan Gunungkidul Jadi Fokus Antisipasi
- bing image creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kekeringan meteorologis yang diprediksi melanda wilayah Kabupaten Bantul dan Gunungkidul pada Dasarian III Juni 2026. Melalui rilis resmi, BMKG menetapkan kedua wilayah tersebut dalam kategori waspada bencana kekeringan. Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menyampaikan bahwa penetapan status ini diharapkan menjadi peringatan bagi pemerintah daerah, institusi terkait, dan masyarakat agar segera menyiapkan langkah strategis untuk meminimalisir dampak yang mungkin terjadi.
Dalam pernyataannya, Reni menegaskan bahwa peringatan dini ini merupakan bagian dari upaya mitigasi agar masyarakat lebih siap menghadapi musim kemarau yang sudah mulai berlangsung sejak pertengahan Juni. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sementara akhir musim kemarau diprediksi berlangsung pada Dasarian I November mendatang. Dengan adanya peringatan ini, masyarakat di Bantul dan Gunungkidul diimbau untuk lebih waspada terhadap ancaman kekeringan, termasuk berkurangnya ketersediaan air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak terhadap sektor pertanian.
Berbeda dengan Bantul dan Gunungkidul, wilayah lain di DIY seperti Kulon Progo, Kota Yogyakarta, dan Sleman masih berada dalam kondisi aman pada periode ini. Namun, BMKG tetap mengingatkan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara menyeluruh karena perubahan iklim dapat memicu kondisi ekstrem yang tidak terduga. Pemerintah daerah diminta untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, terutama dalam pengelolaan sumber daya air, distribusi kebutuhan masyarakat, serta penanganan potensi kebakaran hutan dan lahan.
BMKG juga memberikan rekomendasi khusus bagi sektor pertanian. Para petani diimbau untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau, memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta mengatur jadwal tanam agar tidak bergantung pada pasokan air yang berkurang. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen yang sering terjadi saat musim kemarau panjang. Selain itu, sektor pangan secara umum dianjurkan untuk lebih adaptif dengan memilih tanaman berumur pendek yang membutuhkan lebih sedikit air.
Di sektor sumber daya air, BMKG menekankan pentingnya revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi air agar ketersediaan air tetap terjaga. Pemerintah daerah juga diminta memastikan kapasitas bendungan cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Sementara itu, sektor energi perlu memperhatikan ketersediaan air bendungan yang digunakan untuk mendukung irigasi dan kebutuhan listrik berbasis tenaga air. Hal ini menjadi krusial karena kekeringan dapat berdampak pada pasokan energi yang bergantung pada sumber daya air.