Ayah Wajib Hadir, Yogyakarta Jadi Titik Nol Kampanye Kesehatan Mental dan Pembangunan Keluarga

Dialog bersama Menteri Dr H Wihaji, di Balai Kota dalam rangkaian Peringatan Harganas
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/ Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026 yang mengusung tema “Ayah Wajib Hadir” digelar dengan semarak di Balaikota Yogyakarta, Jumat (26/06/2026). Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr H Wihaji, hadir langsung dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR) serta Ngobrol Perkara GATI (NGOPI) di Angkringan bersama masyarakat. Kehadiran para ayah dalam kegiatan ini menjadi simbol penting penguatan peran keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa.

img_title Krisis Kehangatan Ayah di Tengah Peringatan Harganas ke-33

Menteri Wihaji menegaskan bahwa tema tahun ini dipilih untuk mengingatkan kembali peran ayah dalam tumbuh kembang anak. Ia mengungkapkan, data menunjukkan sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah dalam kehidupan sehari-hari. “Kita ingin mengingatkan bahwa membesarkan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi, membayar SPP, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan emosional mereka,” ujarnya. Program GEMAR, menurutnya, menjadi salah satu cara konkret untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak.

Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah karena dianggap sebagai contoh kota dengan pembangunan keluarga yang baik. Wihaji menyebut, angka harapan hidup di DIY relatif tinggi, rata-rata di atas 75 tahun, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang juga berada di level atas. “Jogja ini plural sekali, bisa disebut Indonesia mini. Semua agama, budaya, dan masyarakat dari berbagai daerah ada di sini. Karena itu, Jogja menjadi titik nol untuk kampanye kesehatan mental dan pembangunan keluarga,” katanya.

img_title Walikota Yogya Susuri Sungai Gajah Wong, Tegaskan Komitmen Kota Bebas Sampah

Ia menambahkan, problem kesehatan mental anak dan remaja kini menjadi isu serius. Data menunjukkan sekitar 34 persen kasus tergolong berat. Oleh karena itu, kampanye edukasi dan komunikasi keluarga harus terus digencarkan. “Anak-anak perlu diajak ngobrol, diajak diskusi. Komunikasi adalah kunci. Kalau komunikasi berjalan, insya Allah tidak akan berhenti. Kita tidak boleh lelah mengedukasi generasi penerus,” tegasnya. Wihaji juga mengingatkan agar teknologi digunakan untuk melayani manusia, bukan sebaliknya. “Saya tidak anti handphone, tetapi jangan sampai kita yang melayani teknologi,” tambahnya.

Kegiatan Harganas di Balaikota turut dihadiri Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo, jajaran pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta berbagai komunitas ayah dan organisasi perlindungan anak.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Menteri Wihaji Tekankan Peran Ayah dan Keluarga di Tengah Tantangan Teknologi