Strategi Cerdas Bupati Samani, Jadikan Pakaian Adat Seragam ASN demi Berdayakan Budaya dan UMKM Kudus

Pakaian Kudusan dan pakaian adat Kudus seragam pegawai ASN Kudus.
Sumber :
  • Arif

Menurut Samani, kebijakan ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya, tetapi juga sebagai bentuk dukungan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang memproduksi kain batik, bordir, serta aksesori khas Kudus.

"Kita ingin budaya ini bukan hanya sebatas tradisi, namun juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat Kudus. Ketika permintaan meningkat, UMKM lokal bisa lebih berkembang," terang Samani.

Dalam penerapannya, kata Samani, Pemkab Kudus memberikan fleksibilitas bagi pegawai yang belum memiliki kelengkapan pakaian Kudusan secara penuh.

Pihaknya menekankan bahwa yang terpenting adalah semangat dan jiwa pelestarian budaya.

"Kalau belum punya kelengkapan pakaian Kudusan, bisa menyesuaikan. Yang penting ada unsur budaya Kudus yang dikenakan. Kalau belum punya iket, bisa pakai peci atau jilbab. Kalau bajunya belum bordir Kudus, bisa pakai yang senada dulu," jelasnya.

Samani menambahkan, pakaian adat Kudus tidak harus berbahan kain beludru saja. Namun bisa disesuaikan dengan kenyamanan dan kebutuhan para pegawai yang mengenakannya.

"Yang terpenting adalah semangatnya. Kalau soal sarung batik Kudusan, saya yakin hampir semua pegawai sudah punya. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengenakannya," ungkapnya.