KKRI dan Pendidikan Karakter: Pakar UMY Ingatkan Pentingnya Pendekatan Humanis

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Nurwanto,
Sumber :
  • Dok Humas UMY

BANTUL,  VIVA Jogja - Pemerintah resmi meluncurkan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) sebagai kegiatan ekstrakurikuler pilihan di jenjang pendidikan menengah tahun ajaran 2026/2027. Peluncuran berlangsung di SMK Negeri 26 Jakarta, Rabu (23/9), dengan tujuan memperkuat karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta kesadaran bela negara peserta didik. Namun, di tengah antusiasme program baru ini, muncul pandangan kritis dari kalangan akademisi yang menilai pendidikan karakter tidak harus selalu dikaitkan dengan pendekatan militer.

img_title UMY Berikan Beasiswa Penuh kepada 113 Mahasiswa, Pembinaan Karakter dan Prestasi Jadi Fokus Utama

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebelumnya telah menetapkan Keputusan Menteri Pendidikan Menengah Nomor 136 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Pembinaan Kesadaran Bela Negara melalui Ekstrakurikuler KKRI. Program ini ditegaskan sebagai ekstrakurikuler pilihan, bukan kewajiban bagi seluruh siswa. Meski demikian, diskusi publik berkembang mengenai bagaimana seharusnya nilai kebangsaan ditanamkan kepada generasi muda.

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Nurwanto, menilai penguatan karakter cinta tanah air dan bela negara memang penting, tetapi harus ditempatkan dalam perspektif pendidikan yang lebih luas. “Kalau KKRI ini dimaksudkan untuk memfasilitasi tumbuhnya karakter, di antaranya bela negara dan cinta tanah air, maka secara umum itu positif,” ujarnya saat diwawancarai Humas UMY, Kamis (01/10/2026).

img_title UMY Gandeng Peradi Profesional, Perkuat Pendidikan Hukum dan Siapkan Generasi Advokat Berintegritas

Menurut Nurwanto, ekstrakurikuler adalah bagian dari proses pendidikan yang berfungsi membantu peserta didik mengembangkan potensi, minat, bakat, serta karakter di luar pembelajaran formal. Namun, ia menekankan perlunya kejelasan arah dan substansi program. “Pertanyaannya, dalam konteks bela negara seperti apa yang mau diusung oleh gagasan atau program ini?” katanya.

Pendidikan Karakter Tidak Identik dengan Militerisme

img_title Dosen UMY Ingatkan Risiko “Sarjana Zonk” di Era AI, Kampus Didorong Perkuat Kreativitas dan Daya Pikir Kritis

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menegaskan KKRI bukanlah upaya menjadikan siswa sebagai prajurit, melainkan sarana penguatan karakter dan kesadaran bela negara. Dalam konteks ini, Nurwanto mengingatkan bahwa pendidikan karakter adalah proses panjang yang tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan fisik. Pendidikan karakter juga menyangkut pemahaman nilai, tanggung jawab, serta peran siswa sebagai warga negara.

Ia menekankan bahwa sekolah harus tetap menjadi ruang bagi siswa untuk berpikir, berekspresi, dan mengembangkan kesadaran kritis. “Untuk membangun cinta tanah air dan bela negara dalam pengertian sebagai sikap kepedulian, guru-guru bisa melakukannya. Organisasi-organisasi kesiswaan yang sekarang sudah ada juga bisa,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title