100 Ketua OSIS SMA Ikuti Nusantara Future Leaders di UGM
- Humas UGM
SLEMAN, VIVA Jogja - Sebanyak seratus ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dari berbagai SMA di seluruh Indonesia berkumpul di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengikuti Nusantara Future Leaders (NFL) 2025. Pertemuan nasional yang berlangsung pada 18–22 Desember ini menjadi wadah dialog, diskusi, sekaligus pembelajaran kepemimpinan bagi generasi muda dari berbagai daerah.
Kegiatan yang digagas oleh BEM KM UGM ini dirancang bukan hanya sebagai forum gagasan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter kepemimpinan masa depan yang inklusif dan berintegritas. Koordinator Umum NFL 2025, Syafina Alya Darindrani, menegaskan bahwa NFL adalah ruang belajar dan bertumbuh. “Kami ingin teman-teman pulang dengan kapasitas yang lebih kuat sebagai calon pemimpin,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Ketua BEM KM UGM, Tio Ardiyanto, mengajak peserta memahami realitas sistem sosial yang telah terbentuk jauh sebelum mereka lahir. Ia menggunakan analogi perang Mahabharata sebagai refleksi atas tantangan kepemimpinan masa kini. “Kita hidup di dalam sistem yang seringkali membuat kita menjadi korban. Kita perlu belajar formasi bertahan dan menyerang secara cerdas, bukan hanya dalam perang, tapi juga dalam realitas sosial seperti sistem pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda di era digital, yakni hoaks dan disinformasi. Ia memaparkan hasil riset global yang melibatkan lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara, yang menempatkan misinformasi sebagai salah satu ancaman serius dunia karena memengaruhi persepsi dan perilaku manusia. Stella juga menekankan peran kecerdasan buatan (AI) yang semakin mempermudah produksi konten hoaks. “Teknologi makin maju, tetapi kebohongannya juga ikut berkembang,” ujarnya.
Menurut Stella, akar persoalan hoaks bukan semata teknologi, melainkan cara manusia berpikir. Ia memperkenalkan konsep cognitive reflection, yakni kemampuan berpikir reflektif dan analitis. Otak manusia, jelasnya, memiliki dua sistem berpikir: sistem cepat yang praktis namun rentan kesalahan, dan sistem lambat yang analitis serta lebih jarang salah. “Kalau kita mengaktifkan sistem berpikir kedua, kita lebih mampu membedakan hoaks dan kebenaran,” tegasnya. Ia menambahkan, refleksi sederhana seperti berhenti sejenak tiga detik sebelum membagikan informasi terbukti efektif menekan penyebaran hoaks.