UGM Pasang Penjernih Air Surya di Bener Meriah
- Humas UGM
VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Teuku Umar (UTU) dan Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) turun langsung membantu penanganan bencana di Aceh Utara dan Bener Meriah. Tim relawan yang tergabung dalam Tim Cadangan Kesehatan, Emergency Medical Team Academic Health System (TCK-EMT AHS) ini dipimpin oleh Dr dr Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG, Subsp. Urogin-RE, dosen FK-KMK UGM.
Salah satu tantangan utama di lapangan adalah akses yang terputus serta terbatasnya pasokan air bersih. Nurhadi menjelaskan bahwa air di fasilitas kesehatan sering mati sejak pagi hingga malam, sehingga mengganggu layanan medis. “Air mati dari pukul 10 pagi hingga sekitar jam 7 malam. Kondisi ini sangat memengaruhi layanan kesehatan,” ujarnya, Jumat (02/01/2026).
Untuk menjawab kebutuhan mendesak tersebut, tim UGM memasang sistem penjernih air bertenaga surya di RSUD Bener Meriah. Program ini melibatkan lintas disiplin, termasuk dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM, Dr S. Adhy Kurniawan. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa alat serupa akan diprioritaskan di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, dan Polindes Simpur.
Menurut Adhy, sistem penjernih air yang dipasang memiliki kapasitas 500–1.000 GPD atau setara 1.900–3.800 liter per hari. Kapasitas tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga di posko pengungsian. “Air bersih dan listrik adalah kebutuhan mendasar. Dengan panel surya, ketergantungan pada listrik dan BBM bisa ditekan,” jelasnya.
Selain pemasangan alat, tim juga melakukan pengecekan fasilitas kamar operasi dan kamar bersalin di Puskesmas Bandar dan RSUD Muyang Kute. Koordinasi dengan BNPB menunjukkan empat dari delapan sumber PDAM di Bener Meriah rusak, sehingga masyarakat hanya mengandalkan empat sumber yang tersisa secara bergantian.
Di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, tim menemukan kondisi yang cukup memprihatinkan. Sekitar 30 kepala keluarga tinggal bersama dalam satu rumah kepala dusun, dengan hanya satu dapur umum dan satu kamar mandi. Relawan melakukan edukasi kebersihan diri serta pengawasan penyakit menular dan tidak menular. Dari pemantauan, ditemukan kasus ISPA, gastroenteritis akut, scabies, serta penyakit kulit lainnya. Penyakit tidak menular yang dominan meliputi hipertensi, hiperglikemia, dispepsia, myalgia, artritis, karies gigi, hingga stomatitis. Tim juga mencatat satu pasien dengan dugaan gangguan kesehatan mental.