Bahaya Obesitas Sentral Menurut Pakar Gizi UGM

Obesitas Sentral
Sumber :
  • bing image creatif

VIVA Jogja - Dalam perjalanan hidup manusia, status gizi selalu menjadi tolok ukur penting untuk menilai kesehatan tubuh. Dari sekian kategori yang ada, obesitas menjadi kondisi paling berisiko. Tidak hanya soal berat badan berlebih, obesitas juga erat kaitannya dengan berbagai penyakit serius yang dapat mengurangi kualitas hidup seseorang.

img_title Semarak Kebersamaan Lansia dan PAUD Mantrijeron Jadi Wadah Pelayanan Publik

Pakar gizi Universitas Gadjah Mada, Dr Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH, menjelaskan bahwa obesitas tidak selalu sama pada setiap orang. Pola penumpukan lemaklah yang menentukan risiko kesehatan. Salah satu bentuk yang paling berbahaya adalah obesitas sentral, atau yang lebih dikenal dengan istilah perut buncit.

Untuk memahami obesitas sentral, Mirza mengajak melihat konsep status gizi melalui Indeks Massa Tubuh (IMT). Standar WHO membagi status gizi mulai dari kurus, normal, overweight, hingga obesitas. Namun IMT hanya menunjukkan jumlah lemak tubuh secara keseluruhan, bukan lokasi penumpukannya. Di sinilah letak perbedaan obesitas sentral. Penilaian tidak cukup hanya dengan IMT, melainkan juga lingkar perut. Angka di atas 90 cm menjadi alarm bahaya. Pada perempuan, hormon estrogen membuat lemak tersebar di berbagai bagian tubuh, sementara pada laki-laki, ketiadaan hormon ini membuat lemak cenderung menumpuk di perut.

img_title Pemkot Yogyakarta Dorong Penguatan Potensi Kelurahan untuk Ungkit Ekonomi Lokal

Obesitas sentral bukan sekadar soal penampilan. Lemak yang menumpuk di perut berkaitan erat dengan sindrom metabolik, ditandai dengan gula darah tinggi, tekanan darah meningkat, dan kolesterol tidak normal. Kondisi ini membuka jalan bagi penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, jantung koroner, hingga hipertensi. “Kalau biokimia di dalam darah sudah bermasalah, nanti akan muncul berbagai penyakit tidak menular lain yang akhirnya berisiko juga pada kematian,” tegas Mirza.

Secara alami, obesitas sentral lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun akibat faktor hormonal. Namun gaya hidup tidak sehat sejak muda bisa mempercepat kemunculannya. Kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi pemicu utama. Tubuh menyimpan kelebihan asupan sebagai lemak, lalu perlahan mengubah metabolisme.

img_title Job Fair Kota Yogyakarta 2026: Ribuan Lowongan Kerja dan Komitmen Dunia Usaha Inklusif

Mengatasi obesitas bukan sekadar diet instan. Mirza menekankan pentingnya mengubah pola pikir terlebih dahulu. Penurunan berat badan adalah proses jangka panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi. “Mindset yang harus dibangun adalah ini turning point saya, saya mau berubah. Kalau nggak ada ini, mau sebagus apa pun programnya tidak akan masuk,” ujarnya. Setelah pola pikir terbentuk, barulah pola makan diperbaiki sesuai usia dan kebutuhan tubuh. Mengurangi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak buah dan sayur menjadi langkah awal.

Halaman Selanjutnya
img_title