Klub Baca Aksara Paparkan Virus Baca Anak Muda di Jepara Lewat Buku
- Vivajogja
VIVAJogja – JEPARA, Semangat literasi yang diwariskan pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini telah mengakar kuat dan tumbuh subur di tanah kelahirannya Jepara.
Belakangan ini, sejumlah komunitas buku mulai bermunculan dan bergeliat seakan menunjukkan api literasi di kota ukir yang tak ingin redup.
Melalui diskusi santai, obrolan ringan namun bermakna, saling berbagi buku bacaan menjadi ruang-ruang intim yang mudah dijumpai di masyarakat.
Hal itu yang sedang diupayakan salah satu komunitas buku yang berbasis di Jepara bagian Selatan, yakni Klub Baca Aksara. Di kedai Imeda Coffee Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara itu, mereka tak hanya membincangkan buku, tetapi juga menghadirkan ruang diskusi untuk menularkan virus baca kepada masyarakat.
Di tengah budaya scrolling dan zaman di mana orang dapat berinteraksi dengan siapa saja dalam hitungan detik, para pecandu buku ini lebih memilih berinteraksi dengan cara yang lebih sederhana, yakni diskusi buku.
Penggiat Klub Baca Aksara, Friska Dwi Aprilia mengatakan bahwa gerakan ini muncul berawal dari keresahan dalam mencari ruang atau wadah dalam membahas buku.
Ia mengungkapkan, sebenarnya di Jepara banyak anak muda yang hobi membaca, namun terkendala wadah dalam mengekspresikan kesamaan hobinya.
Terlebih di wilayah Jepara Selatan, dia melihat belum ada komunitas yang merangkul para pecandu buku ini untuk berkumpul dan bertukar bahan bacaan secara langsung.
"Kami awalnya hanya ingin menghadirkan ruang temu, supaya teman-teman di sekitar sini juga punya tempat untuk berbagi cerita, terutama soal buku," ujar Friska, Minggu (28/6).
Meskipun tak banyak orang, diskusi yang berjalan cukup intens. Sejak pukul 16.00 WIB yang diawali dengan silent reading, obrolan soal buku berlangsung mengalir hingga lima jam lamanya, tentu dengan jeda seperti adzan magrib dan istirahat sejenak.
Friska mengakui diskusi semacam itu justru lebih efektif dan intens dalam membahas buku. Setiap peserta diminta mengutarakan pendapatnya tentang buku yang dibaca atau topik yang sedang diobrolkan.
Tak muluk-muluk soal pemajuan literasi daerah, komunitas itu justru hadir dengan cara yang lebih jujur, memperbanyak diskusi dan sharing bacaan tanpa menghiraukan dokumentasi berlebih atau unggahan fomo di media sosial.