Dari Kaliurang ke Dunia: Perjalanan Setan Alas!
- Dok Humas UGM
VIVA Jogja - Di tengah derasnya arus film horor Indonesia, muncul sebuah karya yang lahir dari ruang akademik namun mampu menembus panggung internasional. Setan Alas! (The Draft!), film garapan Yusron Fuadi, bukan sekadar tontonan yang menghadirkan ketegangan, melainkan sebuah proyek kolaboratif yang mempertemukan dunia pendidikan, masyarakat, dan industri kreatif dalam satu wadah besar.
Awal mula film ini berangkat dari sebuah tantangan yang diberikan pimpinan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka mendorong pengembangan laboratorium multimedia agar tidak berhenti pada teori, tetapi menghasilkan karya nyata. Tantangan itu diterjemahkan Yusron menjadi proyek film yang melibatkan sekitar 70 orang, sebagian besar mahasiswa. Proses pengambilan gambar dilakukan selama sepuluh hari di sebuah vila tua di Kaliurang. Lokasi yang dingin dan berkabut memberi atmosfer alami bagi film bergenre horor ini. Namun, cuaca menjadi kendala utama. “Hujan menjadi tantangan tersendiri. Separuh kru adalah mahasiswa, jadi kadang ada yang belum tahu teknisnya. Di situ kami saling belajar,” ungkap Yusron.
Nama Setan Alas! sendiri lahir dari refleksi atas keberagaman bahasa umpatan di Indonesia. Yusron ingin menghadirkan judul yang komunikatif, mudah diingat, sekaligus mencerminkan nuansa lokal. Lebih dari itu, film ini adalah hasil kerja bersama berbagai elemen masyarakat, termasuk ratusan siswa SMK dari Yogyakarta dan Solo. “Ini filmnya orang banyak, elemen masyarakat yang banyak, dan film ini juga komunikatif dengan penonton,” tambahnya.
Durasi film 84 menit ini mengisahkan lima mahasiswa yang menghabiskan akhir pekan di sebuah vila tua di tengah hutan. Alih-alih mengandalkan jumpscare, Setan Alas! membangun ketegangan lewat konflik, prasangka, dan dinamika psikologis antartokoh. Pendekatan ini membuatnya berbeda dari horor arus utama, dan justru mendapat apresiasi tinggi. Film ini meraih penghargaan Best Film, Best Storytelling, dan Best Editing dalam JAFF Indonesian Screen Awards 2023. Sutradara Joko Anwar bahkan menyebutnya sebagai horor Indonesia yang “Amazing, Awesome, dan Mindblowing.” Di tingkat internasional, Setan Alas! diputar perdana di Fantastic Fest 2024 di Texas, lalu berlanjut ke London dan Toronto.
Keunikan Setan Alas! tidak berhenti di layar bioskop. Semesta cerita ini diperluas ke ranah digital melalui gim berjudul Ganyang Setan Alas. Proyek gim ini bermula dari magang seorang mahasiswa, Andhika Rahmanu, yang mengembangkan gim Android. Atas arahan Yusron, proyek tersebut diperluas ke platform PC dan digarap selama tiga tahun oleh lima mahasiswa sebagai topik skripsi. Gim ini bahkan diperkenalkan dalam ajang industri gim di Jakarta dan mendapat banyak jejaring dengan pengembang profesional. Target berikutnya adalah publikasi di platform internasional seperti Steam, agar karya mahasiswa UGM bisa bersaing secara global.
Wiryanta, Wakil Dekan Sekolah Vokasi UGM, menekankan bahwa proyek gim ini bukan sekadar karya kreatif, melainkan bagian dari integrasi kurikulum. Mahasiswa dilatih mengelola aset digital, mengoptimalkan sistem, hingga mendistribusikan produk. Dekan Sekolah Vokasi, Prof Agus Maryono, menambahkan bahwa proyek ini melibatkan banyak unsur: dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga masyarakat. “Melalui kreativitas dan fiksi, sebuah bangsa bisa maju,” ujarnya. Agus juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Produksi Setan Alas! melibatkan bidang IT, manufaktur, hingga ekonomi. Model kolaborasi ini diyakini dapat memperkuat posisi UGM sebagai pusat produksi karya kreatif yang berdaya saing.
Setelah melalui perjalanan panjang, Setan Alas! akhirnya siap tayang serentak di 181 layar bioskop di berbagai kota Indonesia mulai 5 Maret 2026. Kehadirannya bukan hanya sebagai film horor, tetapi juga sebagai simbol komitmen Sekolah Vokasi UGM dalam menghadirkan karya kreatif berbasis pendidikan dan praktik nyata. Dengan pencapaian nasional dan internasional, serta pengembangan semesta ke dunia gim, Setan Alas! membuktikan bahwa karya akademik bisa melampaui batas ruang kelas. Ia menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pendidikan, masyarakat, dan industri kreatif mampu melahirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi.