Dari Argo ke Algoritma, Cara Bluebird Merancang Ulang Pengalaman Mobilitas

Peluncuran kemitraan Kawan Bluebird dan Kosti Solo di Balai Kota Surakarta (Foto: VIVA Jogja)
Sumber :
  • VIVA Jogja

SOLO, VIVA Jogja - Perubahan teknologi telah menggeser cara masyarakat memilih transportasi. Jika dahulu penumpang mengandalkan taksi yang ditemukan di jalan, telepon ke pusat layanan, atau pangkalan, kini perjalanan semakin banyak dimulai dari layar ponsel. Namun, kemudahan memesan kendaraan bukan satu-satunya hal yang dicari pengguna. Kepastian tarif, kenyamanan, keamanan, hingga kualitas pengemudi tetap menjadi pertimbangan.

img_title Mahasiswa UNS Demo di Solo, Kritik Pemerintah soal Karhutla, MBG hingga Anggaran

Perubahan itu turut mendorong PT Blue Bird Tbk mengembangkan layanan digital melalui aplikasi MyBluebird. Perusahaan tak lagi hanya mengandalkan armada dan sistem pemesanan konvensional, tetapi berupaya menghubungkan berbagai pilihan mobilitas dalam satu kanal digital.

Bagi sebagian pengguna, peralihan tersebut terjadi melalui pengalaman sederhana. Dewi Astuti, mahasiswa baru asal Lampung yang kini tinggal di kawasan Kentingan, Jebres, Solo, misalnya, semula belum terbiasa menggunakan transportasi umum di kota tempatnya menempuh pendidikan.

img_title Granat Kuno Ditemukan di Keraton Solo, Era Asalnya Belum Diketahui

Jauh dari keluarga dan baru pertama kali tinggal di Solo, Dewi masih harus beradaptasi dengan rute angkutan umum serta lingkungan sekitarnya. Kesibukan sebagai mahasiswa baru juga membuatnya membutuhkan pilihan transportasi yang praktis.

Suatu ketika, saat berada di Solo Paragon Mall, ia sempat mencoba memesan kendaraan melalui layanan transportasi daring. Karena kendaraan yang dipesan tak kunjung datang, Dewi membatalkan pesanan dan memilih taksi berwarna biru yang terlihat di sekitar lokasi.

img_title Revitalisasi Keraton Kulon Dimulai, Keaslian Bangunan Jadi Perhatian

Di badan kendaraan itu tertulis Kosti Solo. Logo burung pada lampu atas taksi sempat membuatnya bertanya-tanya mengenai hubungan layanan tersebut dengan Bluebird.

Dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya, Dewi memperhatikan pengemudi yang menggunakan argo, tetapi memilih jalur yang menghindari kemacetan. Ia sempat mempertanyakan keputusan tersebut karena mengira kemacetan justru akan membuat argo bertambah.

Pengemudi kemudian menjelaskan alasan memilih rute yang lebih lancar.

“Kasihan penumpang, Mbak. Kondisi lagi sulit, kenapa harus dibebani bayar argo taksi yang membengkak karena kemacetan yang seharusnya bisa dihindari? Kan uangnya bisa dipakai untuk yang lainnya,” demikian cerita Dewi menirukan penjelasan pengemudi.

Percakapan berlanjut pada pemesanan melalui aplikasi. Pengemudi memperkenalkan MyBluebird dan menawarkan bantuan untuk memasangnya di ponsel Dewi setelah perjalanan selesai.

Halaman Selanjutnya
img_title