Harga Beras Tinggi, Gerakan Pangan Murah Karanganyar Bantu Stabilkan Pasar
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Program Gerakan Pangan Murah di Karanganyar mendapat respons positif dari masyarakat. Pasar murah yang digelar serentak di 17 kecamatan ini menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk menekan tingginya harga beras di pasaran.
Dinas Pertanian Karanganyar mencatat, setiap kecamatan mendapat jatah sekitar 1,5 ton beras.
Total 24 ton beras yang dipasok Bulog langsung didistribusikan dengan harga di bawah pasar. Di Kecamatan Jaten, misalnya, hampir satu ton beras ludes hanya dalam waktu satu jam.
“Permintaan masyarakat sangat tinggi. Bahkan beberapa kecamatan seperti Mojogedang dan Ngargoyoso meminta tambahan pasokan karena stok cepat habis,” ujar Sekretaris Dinas Pertanian Karanganyar, E. Wihartomo, Sabtu (30/8/2025).
Beras yang dijual dalam kemasan 5 kilogram dibanderol Rp58.000 atau Rp11.000 per kilogram. Angka ini jauh di bawah harga pasar yang saat ini berkisar Rp13.500–Rp14.000 per kilogram. Paket bahan pokok lain seperti gula pasir dan minyak goreng juga dijual lebih murah, Rp33.000 per paket.
Menurut Wihartomo, perbedaan harga inilah yang membuat masyarakat rela antre sejak pagi. “Operasi pasar terbukti mampu mengurangi beban rumah tangga, setidaknya untuk jangka pendek,” ujarnya.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian menegaskan, operasi pasar akan terus digelar di berbagai daerah dengan dukungan 1,3 juta ton beras dari Bulog. Skema ini melibatkan pemerintah kecamatan, kepolisian, dan TNI sebagai distribusi utama.
Kebijakan ini muncul di tengah kondisi yang paradoks: Indonesia mengalami surplus beras, namun harga di pasaran justru merangkak naik.
Secara lokal, Karanganyar dipastikan aman dari potensi kelangkaan. Produksi beras daerah ini mencapai 120 ribu ton hingga akhir September. Bahkan, program tanam serentak di bulan September akan menambah cadangan menjelang panen raya Desember.
Meski begitu, beras premium tetap menjadi primadona masyarakat meskipun harganya lebih mahal. “Bulog memiliki cadangan beras premium yang cukup hingga akhir tahun, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Wihartomo.
Ekonom menilai, injeksi beras murah dalam jumlah besar berpotensi menekan harga di tingkat konsumen. Namun, jika tidak diimbangi dengan distribusi lancar, pasar bisa kembali bergejolak.