77 Titik SPPG di Karanganyar Resmi Beroperasi, Sediakan Makan Bergizi Gratis dan Serap 2.800 Tenaga Kerja

Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Karanganyar terus dikebut.

img_title Belajar dari Karhutla Lawu, Karanganyar Perkuat Jaringan Relawan

Dari total 77 titik yang direncanakan, 14 dapur gizi sudah beroperasi, sekitar 20 lainnya dalam tahap akhir pembangunan, dan 35 titik sisanya masih menunggu progres.

Ketua Satgas Percepatan Makan Bergizi Gratis Karanganyar Adhe Eliana menyampaikan bahwa setiap titik pembangunan diawasi langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

img_title Bukan Sekadar Seremoni HUT, Disa Ingin Pemuda Pancasila Lebih Aktif

“Setelah verifikasi, ada batas waktu 45 hari untuk menyelesaikan pembangunan dapur hingga siap beroperasi. Setiap hari progres dicatat, mulai dari nol persen hingga seratus persen,” jelas Adhe Eliana yang juga Wakil Bupati Karanganyar, Rabu (3/9/2025). 

Program makan bergizi gratis ini ditujukan bagi siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Evaluasi di sejumlah titik menunjukkan respons yang positif.

img_title Terpilih Pimpin DPC Peradi Karanganyar, Tigor Bidik Kolaborasi dengan Hipmi dan KEIND Lewat Bisnis Club

“Saat saya mengecek di SMK Penda Popongan, semua makanan habis disantap, bahkan ada siswa yang nambah porsi. Guru sempat khawatir kantin terganggu, ternyata tidak.Justru siswa makin senang karena dapat makanan sehat,” kata Adhe.

Menurutnya, tujuan program bukan sekadar memberi makan hingga kenyang, melainkan memastikan anak-anak mendapat asupan gizi seimbang yang berdampak pada kecerdasan otak, pertumbuhan, dan kesehatan fisik.

Setiap dapur SPPG dikelola oleh tim lengkap: ahli gizi, kepala dapur, juru masak, hingga akuntan. Ahli gizi bertanggung jawab penuh atas menu yang disajikan.

“Sampai sekarang belum ada keluhan dari penerima manfaat. Semua makanan sudah melalui filter ahli gizi sebelum disajikan, sehingga aman untuk siswa maupun ibu hamil dan menyusui,” ujarnya.

Selain menyehatkan masyarakat, program ini, ungkap Adhe, juga berdampak langsung pada perekonomian lokal. Setiap dapur SPPG melibatkan 40–50 pekerja. Bila seluruh 77 titik aktif, ada sekitar 2.800 lapangan kerja baru yang tercipta di Karanganyar.

“Mulai dari tukang masak, pengirim makanan, kepala dapur, hingga penyedia bahan baku, semuanya warga sekitar. Bahkan sayur, telur, dan daging dibeli langsung dari petani serta pedagang lokal.Jadi manfaatnya ganda: anak-anak sehat, ekonomi rakyat bergerak,” terang Adhe.

SPPG tersebar di hampir seluruh kecamatan Karanganyar. Jumlah terbanyak ada di Kecamatan Karanganyar, Jaten, dan Colomadu.

Sementara di Jenawi dan Jatipuro masing-masing terdapat dua titik, dan di kecamatan lain antara satu hingga empat titik.

Adhe optimistis seluruh dapur bisa beroperasi pada tahun ini. Antusiasme masyarakat juga sangat tinggi, terbukti dari banyaknya pertanyaan yang masuk melalui media sosial.

“Di TikTok, banyak yang bertanya, ‘Sekolahku kapan, Pak?’ Bahkan ada video yang ditonton lebih dari 100 ribu kali. Itu menunjukkan masyarakat benar-benar menunggu,” ujarnya.

Menurut Adhe, negara maju biasanya membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun untuk menjalankan program makan bergizi gratis. Namun Indonesia sudah mampu mewujudkannya hanya dalam waktu 1–2 tahun.

“Bedanya dengan negara lain, kita menggunakan sistem dapur gizi yang sekaligus menyerap tenaga kerja. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga ekonomi,” tutupnya.