Desa Papahan Karanganyar Atasi Sampah dengan Mesin Oksidator

Desa Papahan Kini Bebas Bau Sampah
Sumber :
  • VIVA Jogja

KARANGANYAR, VIVA Jogja - Sampah rumah tangga yang dulu menumpuk dan menimbulkan bau menyengat kini tak lagi jadi masalah besar bagi warga Desa Papahan, Kecamatan Tasikmadu. 

img_title Ponpes Jenawi Karanganyar Mendadak Sepi, Santri Tak Lagi Terlihat.

Pemerintah desa menghadirkan mesin oksidator, sebuah teknologi pengolah sampah yang mampu memusnahkan limbah langsung di lokasi tanpa harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari.

Mesin ini bekerja dengan suhu mencapai 1.500 derajat Celsius. Sampah basah maupun kering terurai habis tanpa menimbulkan asap berbahaya. 

img_title Nataru 2026, Polres Karanganyar Musnahkan 6.218 Botol Miras, Lima Orang Diamankan

Abu sisa pembakaran bahkan bisa dimanfaatkan kembali, salah satunya sebagai campuran paving block.

Perubahan ini langsung dirasakan warga. Siti Aminah (47), ibu rumah tangga di Papahan, mengaku lega sejak mesin oksidator beroperasi.

img_title Kirana Maharani Sumbang Emas Kedua, FPTI Karanganyar Tinggal Selangkah Lagi Capai Target

“Dulu kalau musim panas, bau sampah dari penampungan kecil di dekat rumah sangat menyiksa. Sekarang sudah jauh berkurang, karena sampah cepat habis dibakar mesin,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Suparno (55), seorang pedagang. Menurutnya, keberadaan mesin oksidator membuat lingkungan lebih nyaman. 

“Kalau desa bersih, pembeli juga betah. Kami jadi ikut menjaga agar sampah masuk ke mesin, bukan dibuang sembarangan,” katanya.

Penjabat Kepala Desa Papahan, Jalu Setio Bintoro, menjelaskan pengadaan mesin oksidator ini menggunakan Dana Desa 2025 sebesar Rp250 juta. Perencanaan dilakukan sejak 2024 dengan menggandeng mitra dari Magetan, Jawa Timur.

“Dalam 12 jam, mesin ini mampu membakar hingga dua ton sampah. Kalau nanti ada tambahan tenaga dan dukungan dari BUMDes, kapasitasnya bisa ditingkatkan,” jelas Jalu, Jumat (12/9/2025). 

Langkah inovatif Papahan mendapatkan apresiasi dari Bupati Karanganyar, Rober Christanto. Ia menilai teknologi ini bisa jadi contoh bagi desa lain dalam mengurangi beban TPA Sukosari.

“Program ini sangat membantu, tidak hanya soal penanganan sampah, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan. Pemkab juga terus mendorong penguatan bank sampah di desa-desa serta penataan sampah di pasar tradisional,” tegasnya.

Bagi Desa Papahan, mesin oksidator bukan sekadar alat, melainkan simbol kemandirian dalam pengelolaan sampah. Warga bisa hidup lebih nyaman, desa semakin bersih, dan program “tuntas sampah” benar-benar terasa.

Jika inovasi ini terus berlanjut, Karanganyar berpeluang besar mewujudkan cita-cita sebagai daerah bebas sampah di masa depan.