Rupiah Terancam, Kasus Uang Palsu Rp36 Miliar Jadi Alarm Serius

Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ecky Imamul Muttaqin
Sumber :
  • Dok Humas UMY

 

img_title Obesitas Anak Diprediksi Terus Naik hingga 2050, Pakar UMY Soroti Pola Hidup dan Peran Keluarga

BANTUL, VIVA Jogja  – Pengungkapan pabrik uang palsu senilai Rp36 miliar di Tangerang Selatan kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap rupiah. Polda Metro Jaya menemukan 360.000 lembar uang menyerupai pecahan Rp100.000 di kawasan pergudangan Taman Tekno, Setu, pada Jumat (21/08/2026) malam. Meski polisi memastikan uang tersebut belum sempat beredar, jumlah yang begitu besar menegaskan ancaman serius terhadap sistem pembayaran nasional.

Kasus ini menyoroti betapa rentannya masyarakat terhadap praktik pemalsuan uang di tengah tingginya aktivitas ekonomi berbasis tunai. Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ecky Imamul Muttaqin, menilai fenomena ini tidak lepas dari peluang ekonomi yang dimanfaatkan pelaku. “Kasus ini kembali merebak karena ada peluang ekonomi dari peredaran uang palsu itu sendiri,” ujarnya dalam wawancara daring, Kamis (27/8).

img_title LSP UMY Gelar Uji Kompetensi 831 Peserta, Siapkan Kerja Sama Sertifikasi Internasional

Menurut Ecky, uang memiliki karakteristik sebagai kekayaan fisik yang langsung bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Karakteristik ini membuatnya rawan dijadikan instrumen kejahatan. Tekanan ekonomi, gaya hidup, dan kebutuhan tinggi terhadap uang menjadi faktor sosial yang mendorong praktik pemalsuan. Modus peredaran uang palsu biasanya menyasar transaksi dengan intensitas tinggi, termasuk di toko kelontong atau pedagang kecil.

Jika uang palsu berhasil masuk ke rantai transaksi, ia dapat berpindah tangan tanpa disadari. Pedagang maupun konsumen yang menerimanya berpotensi menjadi korban dan mengalami kerugian finansial. “Cukup sulit mendeteksi dari mana sumber utama uang palsu itu pertama kali diedarkan,” jelas Ecky.

img_title UMY Siapkan SMP Muhammadiyah Sapen Universal School Berstandar Cambridge, Targetkan 90 Murid Baru

Ia menekankan bahwa pedagang kecil dan UMKM adalah kelompok paling rentan. Tingginya frekuensi transaksi tunai membuka celah bagi peredaran uang palsu, apalagi ketika pedagang tidak memiliki waktu atau sarana untuk memeriksa setiap lembar uang. Penggunaan alat pendeteksi keaslian uang menjadi langkah antisipasi penting, terutama untuk pecahan besar Rp50.000 dan Rp100.000.

Selain itu, masyarakat dapat menerapkan metode 3D – dilihat, diraba, diterawang – untuk mengenali ciri keaslian rupiah. Metode ini selama ini digunakan Bank Indonesia dalam edukasi publik. Namun, perkembangan teknologi percetakan membuat uang palsu semakin mirip dengan uang asli sehingga sulit dikenali sekilas.

Halaman Selanjutnya
img_title